STT Intheos Solo, Penghasil Guru Agama Kristen yang Bertahan di Tengah Tunggakan Mahasiswa

Sekolah Tinggi Teologi Intheos di Jl. Letjen Sutoyo RT 003/RW 014, Ngadisono, Kadipiro, Banjarsari, Solo, tahun ini mengalami penurunan jumlah mahasiswa. Rabu (2/3 - 2019). (Agnes Yustin Roswita)
04 April 2019 11:00 WIB Agnes Yustin Roswita Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sekolah Tinggi Teologi Intheos (STT Intheos) Solo dikenal sebagai penghasil lulusan yang menjadi guru agama Kristen. Dengan dana terbatas karena banyak mahasiswa yang menunggak, sekolah ini bertahan.

Menurut catatan pengelola, hampir 50% mahasiswa menunggak biaya kuliah semester maupun biaya pembangunan. STT Intheos Solo memiliki empat program studi, yaitu Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Kristen S1 dan S2 serta Prodi Teologi Kependetaan S1 dan S2.

Jumlah mahasiwa yang diterima di STT Intheos pada tahun ini sebanyak 28 orang. Angka itu yang terkecil sepanjang sejarah STT Intheos berdiri. Tahun lalu, jumlah mahasiswa yang diterima ada 39 orang. Jumlah keseluruhan mahasiswa pada tahun ini berjumlah 200-an orang.

“Sekolah ini masih terakreditasi B. Kami belum bekerja sama untuk promosi sekolah. Kami sebatas menyebarkan promosi lewat Radio Immanuel Solo dan beberapa gereja di Solo,” kata Wakil Ketua III STT Intheos, Adi Ehut Lande, saat ditemui Solopos.com, Rabu (2/4/2019)

Menurut Adi Ehut Lande, biaya yang dipatok oleh STT Intheos tidak terlalu besar. Rata-rata, biaya mata kuliah per sks kurang lebih Rp50.000. Biaya kuliah per semester mencapai Rp1,6 juta. Waktu kuliah tepat waktu minimal empat tahun.

“Kami sudah meningkatkan segala visi dan misi untuk mencapai standar yang dikeluarkan BAN-PT. Dari segi tenaga pendidik, kami mendorong 24 dosen untuk menulis jurnal dan menjalin kerja sama dengan pihak lembaga pendidikan yang lain. Kelemahan kami memang hanya mengandalkan pemasukan dari mahasiswa, tidak bekerja sama dengan perusahaan lain,” kata Wakil Ketua I STT Intheos, Ruwi Hastuti.

Ruwi menjelaskan hampir 90% lulusan Prodi Pendidikan Agama Kristen diterima sebagai guru agama Kristen di semua SMA Negeri Solo, terkecuali SMAN 7 Solo. Meskipun memiliki mahasiswa yang mayoritas menunggak biaya kuliah, manajemen sekolah tetap menjalankan sistem pendidikan karena mayoritas para dosen yang bekerja di sekolah tersebut mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada dunia pendidikan secara sukarela.