Bakal Dihabisi 36 Kursi PDIP, Partai Lain di Boyolali Masih Yakin

Partai Politik Peserta Pemilu 2019. (Semarangpos.com)
04 April 2019 05:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Partai pengusung calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) berharap mampu mendulang suara lebih banyak dalam pemilu legislatif (Pileg) tahun ini.

Meski tak memungkiri dominasi PDI Perjuangan (PDIP) di Boyolali, sejumlah partai pengusung capres-cawapres optimistis dapat mendulang suara lebih banyak dalam pemilihan anggota DPRD karena pengaruh ketokohan. Mereka percaya kontestasi Pileg tidak bisa dilepaskan dari Pilpres.

Optimisme ini diharapkan mampu mematahkan prediksi bahwa perolehan kursi partai di luar PDIP, terutama untuk DPRD Boyolali, akan semakin tergerus. Partai-partai ini pun optimistis mampu menahan penguasaan jumlah kursi oleh PDIP.

Sebelumnya, sejumlah pengamat politik memrediksi perolehan suara PDIP Boyolali pada Pileg tahun ini sulit terkejar bahkan terbuka peluang PDIP bisa menambah kursi di DPRD Boyolali dari saat ini 25 kursi menjadi minimal 30 kursi.

Mengacu pada prediksi ini, Ketua DPC PDIP Boyolali, S.Paryanto, justru mematok target jauh lebih tinggi.

Dia justru berharap pada Pemilu Legislatif 2019, PDIP Boyolali bisa menguasai 36 kursi atau bertambah 11 kursi dari Pileg 2014. Jika mampu meraih 30 kursi, setidaknya di masing-masing dapil PDIP rata-rata bisa menambah satu kursi, dan artinya akan ada partai yang terpental dari dapil tersebut.

Jika benar-benar bisa menguasai 36 kursi, paling tidak di masing-masing dapil PDIP harus menambah dua kursi.  

Ketua DPC Gerindra sekaligus Ketua Badan Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno, Singgih Usman, optimistis tahun ini bisa meraup lima kursi di DPRD Kabupaten Boyolali. Jumlah ini meningkat satu kursi dibandingkan Pemilu 2014 lalu.

Dia tidak gentar dengan target yang begitu ambisius dari PDIP.  “Targetnya tiap daerah pemilihan bisa memenangkan satu kursi,” ungkap Singgih, Rabu (3/4).

Swing Voter

Peluang menambah kursi di lembaga legislatif menurutnya sangat terbuka lebar. “Ini juga didukung oleh elektabilitas pasangan capres cawapres nomor dua [Prabowo-Sandiaga] yang naik, jadi target satu kursi per dapil sangat memungkinkan,” ujar Singgih.

Optimisme ini juga didukung oleh figur cawapres Sandiaga Uno yang banyak berkampanye untuk anak-anak muda dan kalangan milenial. Singgih memprediksi sejumlah 30% kalangan milenial dan swing voter bakal mengalihkan dukungan kepada caleg asal Gerindra.

Sementara 70% sisanya, partai masih mengandalkan konstituen dengan berbagai strategi kampanye, seperti sosialisasi dan door to door. “Minimal caleg yang kami pasang di nomor 1 di tiap dapil mampu meraih kursi DPRD,” kata dia.

Ketua DPC PPP Boyolali sekaligus anggota Timses Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Muhammad Budiono, menyebutkan tahun ini PPP optimistis dapat meraih empat kursi di DPRD Boyolali meski dalam pemilu sebelumnya di tahun 2014 mereka tidak mendapatkan tempat di DPRD.

Empat kursi tersebut dibagi dalam empat dapil yaitu dapil 1, 2, 3, dan 5. Hal ini tidak terlepas dari ketokohan Cawapres, Ma’ruf Amin yang merupakan sesepuh PPP. Ma’ruf sebelumnya pernah berkiprah di dunia politik sebagai anggota DPRD DKI Jakarta pada 1977 melalui PPP.

NU dan Muhammadiyah

Selain itu, imbuh Budiono, figur Ma’ruf merupakan penguat politik identitas di kalangan PPP. Hadirnya Ma’ruf sebagai cawapres semakin menegaskan bahwa PPP merupakan partai untuk kalangan pesantren dan agamawan.

“Tidak hanya nahdliyin [orang-orang NU] tetapi juga Muhammadiyin [orang-orang Muhammadiyah],” imbuh Budiono, Selasa (2/4). PPP berharap sebagian besar suara dalam pemilu didapatkan dari golongan tersebut.

Sebelumnya, Pengamat Politik sekaligus Dosen Program Studi Administrasi Negara Universitas Sebelas Maret (UNS), Didik G. Suharto, menyebutkan pemilu legislatif yang berbarengan dengan Pilpres tidak bisa dilepaskan dari figur capres-cawapres. “Persaingan kedua capres-cawapres akan memberi keuntungan bagi partai pengusung,” kata dia.