Selain 11 Rumah Hilang, Longsor di Wonosegoro Boyolali Juga Gerus Jalan 7 Meter

Warga Dusun Kedungaron, Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, beraktivitas di dekat kawasan longsor di dusun tersebut, Jumat (5/4/2019). (Istimewa - Tagana Boyolali)
05 April 2019 17:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Selain membuat 11 rumah hilang, longsor yang menerjang Dusun Kedungaron RT 004/RW 004, Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, juga memakan jalan sepanjang 7 meter dan lebar 3 meter.

Jalan desa itu mengarah ke sungai sehingga tidak sampai mengganggu mobilitas warga. Sementara jalan yang tersisa kini retak-retak dan sulit dilalui kendaraan. Jalan retak bahkan menyentuh halaman beberapa rumah warga.

Jalan desa yang terbuat dari dua lajur beton dengan bagian tengah berupa batu dan tanah. Jalan desa sepanjang tujuh meter terkikis sejak longsor mulai menerjang Jumat (22/3/2019) lalu.

Total hingga Kamis (4/4/2019) dini hari Dusun Kedungaron telah diterjang lima kali longsor. Tanah dusun ini memang tergolong rawan karena berada di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Serang yang melintasi sebagian kawasan Boyolali utara.

Longsor terparah terjadi Rabu (3/4/2019) malam hingga Kamis dini hari yang menyebabkan 11 rumah hilang terbawa arus anak Sungai Serang terbawa tanah yang longsor.

Sementara bencana longsor sebelumnya tidak menimbulkan korban jiwa maupun menyebabkan rumah warga ambruk. Irawan menyebutkan selain jalan retak, tiang listrik dan pohon juga mulai tergerus arus sungai.

Sejumlah warga bahkan berinisiatif menyangga tanah dengan batang pohon agar longsor tidak semakin melebar. “Terkait melebarnya tanah yang longsor saat ini masih dalam pengawasan,” ujar Koordinator Assesment Tagana Boyolali, Moh. Irawan kepada Solopos.com, Jumat (5/4/2019) pagi.

Tiang-tiang listrik di kawasan dusun tersebut kini miring atau doyong akibat longsor. Hal ini cukup mengkhawatirkan dan berpotensi memutus listrik ke dusun. Padahal bencana longsor kerap terjadi malam hari.

Di DAS Serang Dusun Kedungaron masih tersisa tiga rumah yang juga ditinggali warga. Rumah-rumah tersebut berpotensi terkena longsor susulan.

"Di seberang badan jalan yang putus oleh longsor masih terdapat sekitar lima rumah lagi. Jadi total ada delapan rumah yang rawan,” imbuh dia.

Warga yang tinggal di DAS Serang juga dapat dijumpai di Dusun Brangkal RT 003/RW 005, Desa Bandung, Kecamatan Wonosegoro. Salah satu warga Bandung, Arwani, menyebut Dusun Brangkal menjadi kawasan rawan bencana di desa tersebut. “Tiap hujan pasti berpotensi longsor,” ujar dia, Jumat.

Kepala Desa Bandung, Handoyo, menyebutkan pemerintah desa pernah memindahkan dua keluarga warga RT 003 ke tanah kas desa lantaran dapur dan sebagian rumah ambruk diterjang longsor. Pemindahan yang dilakukan pada 2016 lalu dilakukan karena alasan keamanan.

“Lagi pula mereka orang tua dan anak jadi relokasi hanya membutuhkan satu rumah,” imbuh Handoyo.

Sementara terkait keamanan warga, Handoyo menyebut telah melaporkan keadaan di desanya kepada pemerintah. Hal ini terkait pembuatan talut yang cocok untuk daerah bantaran sungai yang rawan longsor.

Selama ini talut lebih banyak menggunakan talut sederhana yang dibuat sendiri oleh warga. Talut tersebut dibuat seadanya karena keterbatasan biaya.

Kawasan Dusun Brangkal kini masih didiami sekitar 30 keluarga. Pemerintah desa berencana mengajukan bantuan berupa pembuatan talut bronjong yang dinilai lebih aman untuk daerah rawan longsor.

Selama ini relokasi ke tempat yang lebih aman tidak dipandang sebagai solusi bagi warga desa. Relokasi tersebut membutuhkan lahan dan biaya yang cukup besar. Sementara tingkat ekonomi warga yang rendah dianggap belum mampu menyentuh ke sana.

Kini pemerintah desa tengah berupaya melakukan penyuluhan mengenai bencana alam di forum-forum warga. Namun demikian, imbuh Handoyo, penyuluhan tetap dirasa kurang karena pemerintah desa juga tidak menguasai cara penanggulangan bencana secara spesifik.

Sebelumnya diberitakan, 11 rumah hanyut terbawa tanah longsor ke sungai di tempat yang sama. Longsor itu tidak menimbulkan korban jiwa karena sebelumnya warga sudah diperintahkan untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

Rumah-rumah warga yang hanyut itu hanya berjarak sekitar lima meter dari bibir sungai. Saat longsor terjadi 11 keluarga penghuni rumah itu telah pindah ke tempat lain.