Muhammadiyah Klaten Buka Sekolah Bisnis, Mau Pilih Jurusan yang Mana?

Salah satu mentor Sekolah Bisnis Muhammadiyah, Erwina Kusmarini, menyampaikan materi saat digelar seminar bisnis di Suara Muhammadiyah Corner, Klaten, Rabu (3/4/2019).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
05 April 2019 10:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten kembali menggulirkan kegiatan Sekolah Bisnis Muhammadiyah (SBM). Kegiatan yang ditujukan untuk membentuk wirausahawan baru itu digelar dalam empat jurusan.

Guna mengawali kegiatan sekolah tersebut, MEK PDM Klaten menggelar seminar bisnis bertajuk Mental Pebisnis yang Naik Level, Rabu (3/4/2019). Kegiatan yang digelar di kantor Suara Muhammadiyah (SM) Corner, Jl. Pemuda, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, tersebut menghadirkan para mentor SBM.

Salah satu mentor SBM, Erwina Kusmarini, mengatakan empat jurusan pada SBM tahun ini meliputi garmen, kuliner, otomotif, serta marketing online. Masing-masing jurusan diasuh para mentor yang selama ini menjadi pelaku usaha. Seperti Erwina, pemilik Bunda Collection yang menjadi salah satu mentor jurusan garmen.

Erwina mengatakan SBM digelar dalam 12 pertemuan selama tiga bulan. Selain pembekalan berupa materi, peserta SBM mendapatkan pembekalan berupa praktik.

“Jadi model sekolahnya tidak seperti LPK. Kalau LPK lebih pada praktik. Kalau SBM tujuan utamanya memberikan ilmu pendidikan dan targetnya peserta menjadi pengusaha. Kalau nanti diujung materi kelas mereka belum siap menjadi pengusaha, masing-masing dari kami sebagai mentor siap menjadi rekan bisnis mereka,” kata Erwina saat ditemui Solopos.com.

Khusus di bidang garmen, ia berharap bermunculan pengusaha Klaten yang berani bersaing di pasar ekspor. Peluang usaha di bidang garmen cukup besar terutama pada busana muslim. “Indonesia bakal menjadi kiblat busana muslim se-Asia Tenggara. Ini peluang luar biasa,” kata wanita yang juga Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Klaten tersebut.

Terkait seminar bisnis yang digelar, Erwina mengatakan itu menjadi salah satu media sosialisasi bergulirnya SBM Klaten. Selain itu, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memotivasi peserta agar tak ragu menjadi wirausaha. Kegiatan itu diikuti hampir 70 orang. “Kunci menjadi wirausaha itu harus positif thinking, optimistis, serta mau belajar dan mendengarkan cerita dari pebisnis lain,” ungkapnya.

Direktur SBM Klaten, Sudarwanto, mengatakan SBM sudah bergulir dalam dua tahun terakhir di bidang kuliner. Kegiatan tersebut sukses melahirkan wirusahawan baru. “Memang sudah dua tahun ini dan animonya bagus di bidang kuliner. Pada 2019 ini, kami mencoba dengan empat kelas. Pada tahap awal kami membentuk secara mental dulu,” ungkapnya.

Sudarwanto menjelaskan kegiatan SBM tidak terbatas selama tiga bulan. Pendampingan bakal terus dilakukan hingga peserta benar-benar menjadi pengusaha.

“Setelah kegiatan sekolah ini berakhir, pendampingan tetap dilakukan. Mereka bisa konsultasi datang ke SM Corner atau kami yang datang ke tempat usaha,” urai dia.

Ketua MEK PDM Klaten, Wahyudi Nasution, mengatakan sekolah itu bermula pada 2017 digelar pelatihan pembuatan roti bekerja sama dengan PT. Sriboga. Kegiatan tersebut diikuti 140 peserta dari target 50 peserta.

“Dari itu kami melihat animo masyarakat untuk berwirausaha itu tinggi. Sejak saat itu akhirnya kami punya ide mendirikan SBM untuk membangun mental wirausahawan masyarakat kemudian skill dan pemasaran nanti kami bisa membangun jaringan pasar di antara sesama,” kata dia.

Ia menjelaskan kegiatan SBM bakal terus dikembangkan termasuk jenis jurusan yang ditawarkan ke peserta. Ia memastikan kegiatan tersebut untuk umum alias tidak dibatasi untuk warga Muhammadiyah saja. “Siapa pun boleh ikut. Jadi tidak harus orang Muhammadiyah,” jelas dia.