SMA Swasta di Sragen Berharap Berkah dari Sistem Zonasi

Guru adalah sosok yang harus digugu dan ditiru. (dok)
06 April 2019 13:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Pengelola SMA swasta di Sragen berharap adanya implikasi positif dalam penerapan sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada tahun ini.

Wakil Kepala SMA Bhakti Praja 3 Kalijambe, Suripto, mengatakan dari tahun ke tahun sekolah yang dikelolanya selalu kesulitan mendapat siswa baru dalam jumlah banyak. Saat ini hanya ada 49 siswa yang menjadi peserta didik di sekolah yang bernaung di bawah Yayayasan Korpi ini. Mereka terbagi tiga kelas yakni 12 siswa di Kelas X, 22 siswa di Kelas XI, dan 15 siswa di Kelas XII.

“Setiap tahun kami harus jemput bola. Kami mendatangi sekolah-sekolah yang lebih favorit untuk menjaring siswa yang tidak diterima di sana. Kami juga mendatangi rumah-rumah siswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka umumnya tidak punya motivasi untuk melanjutkan ke jenjang SMA, tapi setelah kami beri dorongan, mereka akhirnya mau sekolah. Jadi, bisa dibilang kami menyelamatkan mereka dari putus sekolah,” terang Suripto saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (5/4/2019).

Siswa SMA Bhakti Praja 3 Kalijambe tidak hanya berasal dari Sragen. Justru sebagian besar siswa berasal dari luar kabupaten seperti Solo, Boyolali, Karanganyar bahkan Grobogan. Mereka yang berasal dari Sragen rata-rata warga sekitar yakni anak-anak dari Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe.

“Kami percaya setiap kebijakan dibuat untuk kebaikan. Ya mudah-mudahan sistem zonasi itu bisa menjadi keuntungan atau berkah buat SMA swasta. Mudah-mudahan kami mendapat limpahan siswa yang tidak diterima di sekolah yang lebih favorit karena penerapan sistem zonasi ini,” papar Suripto.

Suripto percaya sistem zonasi akan membawa kemajuan bagi dunia pendidikan. Kebijakan zonasi itu, kata Suripto, perlu dilakukan dalam rangka menghindari diskriminasi pendidikan. Dia juga yakin penerapan sistem zonasi itu akan menumbuhkan spirit cinta lingkungan atau daerah masing-masing.

“Harus dipahami, di era globalisasi ini, banyak anak yang larut budaya dari luar dan meninggalkan kultur asli daerah masing-masing,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA negeri/swasta di Sragen, Tri Hartanto, mengatakan SMA swasta justru menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penerapan sistem zonasi dalam PPDB. Pasalnya, SMA swasta berpeluang besar mendapat limpahan dari siswa berprestasi dari kecamatan di luar Kota Sragen yang kalah bersaing karena penerapan sistem zonasi.

“Anak-anak yang pintar dari desa nanti bisa ditampung di sekolah swasta yang sebagian besar terletak di wilayah kota. Bisa dibilang sekolah swasta akan dapat bibit unggul nanti. Dengan sistem zonasi, anak yang pintar dari pedesaan itu tidak memungkinan diterima di SMA negeri tujuan di kota,” terang Tri Hartanto.