Cerita Guru-Guru di Solo Setelah Pelatihan di Luar Negeri, Siswa di Sana Aktif dan Kritis

Ilustrasi guru. (dok)
07 April 2019 05:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Sejumlah guru di Solo yang mengikuti program pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan di luar negeri mengamati siswa di sana aktif dan kritis dalam pembelajaran.

Pemikiran yang kritis membantu siswa mengerjakan soal bertipe higher order thinking skills (HOTS). Hal itu disampaikan guru SMKN 9 Solo, Ary Yulistiana, mewakili guru SMK di Solo yang mengikuti pelatihan di Australia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ary mengatakan kemajuan teknologi harus dimanfaatkan guru atau pendidik agar lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran. Diharapkan ada komunikasi dua arah antara pendidik dan anak didik agar murid terpacu untuk aktif.

Siswa-siswa masa kini yang merupakan generasi Z hingga generasi Alfa memerlukan kemasan pembelajaran yang menarik, penuh tantangan, dan bermanfaat untuk menghadapi masa depan. Salah satu caranya mengoptimalkan penggunaan teknologi,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di SMKN 9 Solo, Kamis (4/4/2019).

Selain workshop dalam bidang teknologi digital, guru juga diajak untuk memahami kerangka pembelajaran abad ke-21. Kecakapan abad ke-21 terdiri atas tiga pilar utama, yakni literasi, kompetensi dasar 4C (berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi), serta karakter.

“Kecakapan tidak diajarkan secara kaku dalam pembelajaran, melainkan aktif dan menyenangkan. Libatkan siswa sepenuhnya. Saat kunjungan ke sekolah dasar maupun menengah, saya selalu mendapati suasana pembelajaran yang aktif dengan guru yang antusias mengajar,” ujar dia.

Ary mengimbau para guru untuk membiasakan diri untuk mengajak siswanya berpikir kritis. Pembiasaan berpikir kritis akan mengarahkan siswa untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Berpikir kritis juga bisa melalui pembelajaran maupun mengerjakan soal-soal ujian bertipe HOTS.

"Implementasi HOTS di Indonesia mungkin masih sulit karena sebelumnya siswa tidak dibiasakan untuk berpikir tingkat tinggi. Hambatan memang harus dicarikan solusinya. Apabila diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan, pembelajaran HOTS bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa,” ujarnya.

Kepala SMPN 4 Solo, Sri Wuryanti, yang juga mengikuti program pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan di Australia mengatakan tujuan program adalah meningkatkan kapasitas guru. Tujuan khususnya untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0. "Intinya guru yang dikirim ke luar negeri akan mendapatkan wawasan baru agar bisa diterapkan di sekolah,” ujar dia.