Mbah Bagong, Sahabat Polisi Boyolali Saat Ada Kecelakaan Lalu Lintas

Derek Mbah Bagong mengevakuasi bus Agra Mas yang mengalami kecelakaan di Ampel, Boyolali, beberapa waktu lalu. (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
07 April 2019 17:40 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Keberadaan jalur cepat Solo-Semarang menjadikan Boyolali salah satu daerah rawan kecelakaan lalu lintas. Maka mobil derek menjadi kebutuhan mendesak.

Bagi warga yang kerap memperhatikan penanganan kecelakaan lalu lintas kendaraan roda empat (atau lebih) di wilayah Boyolali mungkin sudah akrab dengan kehadiran Mbah Bagong.

Mbah Bagong adalah truk derek dengan kabin kepala berwarna putih ini biasanya didatangkan polisi beberapa saat setelah terjadi kecelakaan untuk keperluan evakuasi kendaraan. Truk ini bertugas menyeret, menarik, mengangkat, dan mengangkut mobil yang terlibat kecelakaan.

Terkadang mobil ini juga membantu upaya penyelamatan jika ada awak atau korban yang terjepit badan kendaraan. Truk bemoncong yang berbentuk klasik ini bodinya sudah berkarat di sana sini. Meski begitu, truk ini masih berfungsi normal bahkan masih bertenaga.

Misalnya pada saat mobil derek ini mengevakuasi truk dan bus Agra Mas yang mengalami kecelakaan di Ampel beberapa waktu lalu, di mana sebagian badan bus keluar jalan dan menggantung di kebun warga, truk derek ini mampu mengembalikannya ke jalan dengan mudah dan kemudian menyeretnya ke Kantor Satlantas Boyolali.

Seperti tampilannya yang berkarat di sana-sini, truk yang kelihatan ini memang sudah berusia lanjut. Truk merek IH ini buatan Italia tahun 1958. Tidak diketahui secara pasti spesifikasi lainnya pada mesin, namun sopir utama mobil derek ini, Amin Widodo, 63, mengatakan truk tersebut memiliki 8 silinder, sehingga cukup bertenaga untuk melakukan pekerjaan berat.

Penelusuran Solopos.com di laman Google, ternyata tidak banyak informasi mengenai spesifikasi truk ini. Hanya ada beberapa gambar yang mirip dan kondisinya pun sudah ndongkrok alias mangkrak.

Menurutnya Amin, truk derek Boyolali itu dibeli dari seorang pengusaha jasa mobil derek di Salatiga sekitar 15 tahun silam seharga Rp60 juta. “Ini mobil IH 1958 bikinan Italia. Dulu kami beli kondisi bekas seharga sekitar Rp60 juta,” ujarnya saat berbicang dengan Solopos.com di kediamannya di RT 006/RW 003 Karangkepoh, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota, Sabtu (6/4/2019), persis di depan garasi dereknya.

Meskipun sudah berusia 61 tahun, mobil derek yang sudah mengevakuasi ratusan kendaraan ini terhitung jarang rewel. Sesekali saja mengalami kerusakan hingga harus dilakukan penggantian suku cadang.

Untuk mendapatkan suku cadangnya sudah sangat sulit bahkan mungkin tidak ada lagi di Indonesia. Karenanya, dia sering membandrek dengan suku cadang merek lain yang sejenis, seperti truk Mercedez.

“Perawatan utama hanya pada aki dan rem. Kalau ada yang rusak, dibandrek pakai punyanya Mercy yang masih bisa dicari suku cadangnya. Tapi untungnya mesin hampir tidak pernah rusak,” ungkapnya penuh syukur.

Status truk tersebut saat ini milik perkumpulan sopir dan kenek (personek) Boyolali. Ayah tiga anak ini mengatakan dulu 60 anggota personek sepakat patungan masing-masing Rp600.000 untuk membeli truk tersebut.

Setelah terkumpul Rp36 juta, kekurangannya Rp24 juta ditutup dari pinjaman bank dengan agunan mobil truk milik Amin. Hingga saat ini Amin menjadi sopir sekaligus penderek jika ada panggilan evakuasi kendaraan.

Jika dia berhalangan, yang akan melakukannya adalah Biso, 68, rekannya di personek. Sedangkan administrasinya dikelola Hananto, 67, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Bagong. Mbah Bagong inilah yang kemudian melekat pada nama mobil derek tersebut.

Berapa biaya yang harus dibayar untuk jasa Mbah Baging? “Antara Rp500.000 hingga Rp2 juta, tergantung jauh-dekat lokasi dan tingkat kesulitan evakuasinya,” imbuh Amin yang sehari-hari bekerja membuat batu bata ini di rumahnya.

Sementara itu, setelah berjalan sekitar tujuh tahun, personek Boyolali menambah satu kendaraan derek Mitsubishi Diesel buatan 1980 untuk penanganan mobil yang lebih kecil.

Terpisah, Kanit Lakalantas Polres Boyolali Ipda Utomo mengatakan derek Mbah Bagong memang sudah lama menjadi mitra dalam evakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan. “Kalau di wilayah Boyolali ya Mbah Bagong ini yang mengevakuasi,” ujarnya.

Jika kendaraan yang mengalami kecelakaan tidak terjangkau derek karena faktor kesulitan tinggi atau berada kedalaman, evakuasi dilakukan menggunakan crane. “Biasanya crane yang dipakai yang dekat sini ya Mbah Wiryo Crane Solo,” imbuhnya.