Warga Senang, Ada Layanan Berobat Tanpa Tarif di Plumbungan Sragen Tiap Minggu

Dua warga berobat di klinik sukarela yang dikelola BKM Plumbungan Jawa, Kelurahan Plumbungan, Karangmalang, Sragen, Minggu (7/4 - 2019). (Tri Rahayu)
10 April 2019 01:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Plumbungan menyediakan layanan berobat yang difasilitasi seorang dokter tiap Minggu pagi. Layanan itu tanpa tarif alias bayar seikhlasnya.

Lelaki lanjut usia asal Candi Baru, Plumbungan, Karangmalang, Sragen, Wagiman, 52, duduk menunggu jatah obat dari petugas. Ia mengeluh pegal linu di bagian punggung.

Setelah mendapat obat, ia langsung keluar dari klinik kecil yang menempati Gedung PKK di kompleks Kantor Kelurahan Plumbungan, Minggu (7/4/2019) pagi. “Saya baru kali pertama berobat ke sini. Baru tahu kalau ada klinik gratis dari Pak Dokter yang kebetulan tetangga saya,” katanya ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu pagi.

Dr. Ade Chandra Purnama duduk di kursi pelayanan. Di depannya ada alat periksa dan buku pasien. Di samping mejanya terdapat amben yang digunakan untuk memeriksa pasien. Ade biasanya berkerja di Klinik Ar-Rahman Sambungmacan. Sebulan terakhir, Ade diminta membuka praktik di Kelurahan Plumbungan setiap Minggu pagi, pukul 06.00 WIB-08.00 WIB.

“Saya hanya diminta bantuan untuk melayani warga. Kami buka sejak awal Maret lalu. Pasiennya 7-20 orang setiap buka. Padahal targetnya 30 orang. Pasiennya macam-macam, ada anak-anak umur 2 tahun, ada pula yang sudah lanjut usia umur 80 tahun. Kebanyakan orang lansia dengan keluhan pegel linu dan boyok,” ujar Ade saat ditemui Solopos.com.

Ade mendapat gaji Rp1 juta untuk buka praktik rata-rata empat kali dalam sebulan. Gaji yang diterimanya berasal dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan Kelurahan Plumbungan yang dikelola Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Plumbungan.

PNPM yang berakhir pada 2015 itu masih berjalan di Plumbungan dengan dana yang dikelola mencapai Rp242 juta per akhir Januari 2019 lalu. Ketua BKM Plumbungan Jaya, Ahmad Dahlan, menjelaskan klinik sukarela menjadi embrio klinik baru di Plumbungan.

Biaya operasional klinik sukarela, jelas Dahlan, berasal dari donatur tetap warga sebanyak 21 orang plus dana sukarela yang terkumpul. Dalam sebulan dana sukarela lewat kotak infak di klinik hanya Rp250.000 per bulan padahal untuk operasionalnya membutuhkan Rp2,5 juta per bulan.

“Opersional tertutup lewat donatur. Untuk tempatnya ini sebelumnya Gedung PKK yang mangkrak kemudian direhab menjadi klinik. Pasiennya tidak ditarik biaya. Kalau mau infak ya silakan. Kalau pun tidak infak tidak masalah,” ujar dia.

Ide pengobatan sukarela muncul lantaran BKM yang dipimpin Dahlan prihatin dengan pelayanan pasien Badan Penyelenggara Perlindungan Sosial (BPJS). Mereka sering kali terkesan susah mendapat pelayanan kesehatan dengan alasan kamar penuh dan seterusnya. Sebaliknya saat statusnya pasien umum, mereka mendapat kemudahan kamar.

“Pengobatan sukarela ini bagian dari kegiatan BKM di bidang sosial. Kalau dulu sering diarahkan untuk bakti sosial sekarang dialihkan dengan pengobatan sukarela,” tutur dia.