Lalu Lintas Koridor Jensud Solo Berubah Lagi, Netizen: Pusing Deh!

Denah pengaturan lalu lintas di koridor Jensud Solo mulai Kamis (11/4 - 2019). (Istimewa)
11 April 2019 22:15 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo mengubah manajeman rekayasa lalu lintas (MRLL) di Jalan Jenderal Sudirman. Perubahan ini dilakukan guna menyesuaikan pemeliharaan batu andesit di koridor Jalan Jenderal Sudirman yang berlangsung sejak Maret 2019.

Perubahan manajemen rekayasa lalu lintas di koridor Jalan Jenderal Sudirman Solo menuai beragam respons netizen. Sejumlah netizen mengutarakan kebingungan lewat kolom komentar akun @jelajahsolo yang membagikan berita dari Solopos.com, Kamis (11/4/2019).

Yaela, kenapa setiap hapal jalan Solo rutenya diubah lagi,” komentar @seputarsoc.

Halo-halo, Gladak kapan selesainya? Tolong tata Kota Solo, selesaikan satu proyek dulu sampai tuntas. Baru penggarapan proyek berikutnya. Jangan sampai APBD sudah habis proyek mangkrak, jalan macet, masalah demi masalah muncul. Belum lagi kalau hujan banjir di jalan. Gladak lebih dari empat bulan mangkrak. Pusat kota tidak bisa dibiarkan begitu saja harus segera dilanjutkan penggarapannya. Mohon maaf, yang seharusnya dipikirkan adalah pembangunan gedung parkir di sekitar pusat bisnis kota. Untuk mengurangi kemacetan karena parkir di pinggir jalan utama,” imbuh @desysari27.

Pengin kelihatan wah, tapi menyengsarakan rakyat,” imbuh @kangmasdhika.

Paving-nya sudah ambyar semua lur,” lanjut @danynariseto menimpali.

Diberitakan Solopos.com, Kasi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dishub Solo, Mudo Prayitno, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (10/4/2019) malam, mengatakan MRLL tahap kedua akan dimulai pada Kamis (11/4/2019) pukul 10.00 WIB.

Secara umum tidak ada perubahan signifikan, hanya dari arah Pasar Gede menuju ke barat sedikit bergeser menyesuaikan dengan lokasi pemeliharaan. “Secara umum tidak mengubah arah lalu lintas dengan kondisi MRLL pemeliharaan batu andesit tahap pertama. Dari arah Klewer atau Gladak menuju Pasar Gede atau ke Jl. Arifin masih bisa masih tetap melaju seperti biasa, Jl. Arifin yang hendak belok kiri juga masih bisa,” ujarnya.

Sementara itu, dari arah Pasar Gede menuju ke arah Jl. Jenderal Sudirman hanya diperbolehkan untuk kendaraan roda dua dan becak. Kendaraan roda empat diarahkan menuju Ketandan. Pada MRLL tahap pertama Jembatan Pasar Gede sempat ditutup namun karena berdampak kemacetan pada Simpang Empat Ketandan kendaraan roda dua dan becak diberi jalur khusus selebar tiga meter.

Kini, jalur khusus roda dua itu hanya bergeser menyesuaikan dengan pemeliharaan batu andesit. Ia menambahkan sosialisasi berupa petunjuk-petunjuk jalan yang dilalui pada MRLL tahap pertama masih digunakan.

Sosialisasi pengerjaan tahap pertama berupa petunjuk jalan sudah berlangsung seperti biasa hingga saat ini. Simpang Tiga Loji Wetan akan diberi barikade untuk membuat arus lalu lintas yang menuju utara wajib belok kiri ke Jalan Mayor Kusmanto.

Hal itu untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di lokasi pemeliharaan. Bus BST Koridor I yang semula melalui jalur Jl. Urip Sumoharjo lalu Jl. Jenderal Sudirman menuju Jl. Mayor Sunaryo diubah menjadi Jl. Urip Sumoharjo menuju Jl. R.E. Martadinata, lalu Jl. Kapten Mulyadi, menuju ke Jl. Mayor Kusmanto, dan masuk ke Jl. Jenderal Sudirman.