Warga Palur Sukoharjo Pasang Spanduk Tolak Penutupan Perlintasan KA Bawah Flyover

Spanduk penolakan terpasang di pinggir jalan dekat perlintasan kereta api Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Senin (1/4/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
11 April 2019 17:15 WIB Wahyu Prakoso Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Spanduk dari kain putih dengan tulisan hitam terpasang di pinggir jalan dekat flyover Palur, Dusun Palur Kulon RT 002 RW 002, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.

Tulisan di spanduk itu berisi penolakan rencana penutupan perlintasan kereta api (KA) di bawah flyover Palur, Karanganyar, oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebagaimana diinformasikan, PT KAI berencana menutup perlintasan tersebut serta memasang wessel menyusul difungsikannya double track atau rel ganda.

Pantauan Solopos.com, Kamis (11/4/2019), spanduk yang dipasang berukuran 3 meter x 1 meter. Terdapat empat spanduk yang dipasang di pagar salah satu toko yang sudah tutup.

Tulisan di spanduk itu berbunyi, "Menolak Penutupan Jalan, Infrastruktur Mumpuni tetapi Rakyat Terbebani, Jangan Tutup Akses Kami!!, Jamane Soyo Maju Pikirane Soyo Mundur".

Salah satu pedagang di sekitar perlintasan, Widianto, 51, mengatakan spanduk tersebut belum ada satu pekan dipasang. Pemasangan dilakukan oleh warga sekitar Palur sebagai bentuk sikap penolakan mereka terhadap rencana PT KAI.

“Semua warga, enggak hanya Palur, menolak rencana penutupan perlintasan kereta api ini. Kalau jadi ditutup kasihan warga sekitar akses jalannya bagaimana. Pelaku usaha pendapatannya pasti berkurang. Silakan ditutup celah-celah yang sekiranya membahayakan, tetapi jangan jalan ini,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di lapaknya.

Kepala Desa Palur, Sugito, mengatakan pemasangan spanduk merupakan bentuk keseriusan penolakan warga terhadap rencana PT KAI menutup perlintasan di bawah flyover. Dia menjelaskan banyak warga yang tidak setuju dengan penutupan perlintasan kereta api karena wilayah Dusun Palur Kulon dipisahkan rel kereta api sehingga penutupan jalan akan menimbulkan dampak sosial.

“Warga Dusun Palur Kulon banyak yang masih ada ikatan keluarga dengan warga di seberang rel sehingga apabila akses jalan ditutup komunikasi antarwarga akan terganggu. Kalau ditutup, silaturahmi harus lewat Dusun Panjang Rejo yang harus memutar tiga kilometer atau lewat flyover. Penutupan ini akan menyulitkan warga untuk berinteraksi,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kantornya.

Menurut dia, tujuan pemasangan spanduk supaya PT KAI tahu sikap warga terkait rencana penutupan perlintasan KA. Dia berharap PT KAI mengkaji ulang rencana penutupan perlintasan tersebut.

Salah satu warga Dusun Palur Kulon, Subagyo, menjelaskan jalan di bawah flyover merupakan satu-satunya akses mudah bagi warga khususnya Desa Palur untuk mobilitas. Dia mengatakan bagian selatan flyover sudah dibangun tembok pembatas sehingga apabila perlintasan kereta ditutup akan menyulitkan akses warga.

“Kalau jalan ditutup kami lewat mana. Apabila ada warga Palur Kulon meninggal, akses ke TPU susah. TPU berada di timur rel. Kami tidak setuju dengan rencana itu. Informasi yang saya dengar, dalam waktu dekat ini akan ada pemasangan spanduk lagi oleh warga sekitar. Spanduk akan dipasang lebih banyak,” katanya kepada Solopos.com.