Dituding Giring Opini Mahasiswa ke Capres Tertentu, Ini Tanggapan Pimpinan UMS

Aliansi mahasiswa menggelar aksi di halaman Gedung Siti Walidah kampus UMS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (11/4/2019). (Solopos - Iskandar)
11 April 2019 19:35 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Taufik Kasturi, mengaku tidak paham secara jelas maksud dari politisasi kampus dan penggiringan opini ke salah satu calon presiden (capres) pada Pilpres 2019.

Tudingan penggiringan opini dan politisasi kampus itu disampaikan Aliansi Mahasiswa Gergerak (AMG)saat berdemo di kampus tersebut, Kamis (11/4/2019). Taufik justru mengatakan peserta aksi mengatasnamakan bukan salah satu elemen UKM maupun BEM, mereka di luar kampus.

“Mereka memprotes soal politisasi kampus, lalu yang dimaksud politisi kampus itu apa? Itu yang saya enggak jelas,” kata dia saat diwawancarai Solopos.com, Kamis.

Taufik menilai setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya asal tak menggunakan nama institusi. Dia memastikan di UMS tak ada sistem yang mengatur untuk memilih salah satu paslon 01 maupun 02.

Namun dia tak menampik jika masing-masing orang mempunyai kecenderungan sendiri pada pilihannya. Hal demikian itu, kata Taufik, dianggap para peserta aksi sebagai politisasi.

Dalam pemahamannya, politisasi adalah menggiring opini untuk mengikuti ideologi seseorang. “Kalau semacam ini mereka kan juga melakukan politisasi juga. Karena mengajak orang untuk mengikuti ideologi mereka,” kata dia.

Ditanya soal dosen atau rekan sejawat di UMS yang membanding-bandingkan capres saat perkuliahan, Taufik mengaku tak tahu. “Tanya mereka, saya malah enggak mengerti wong setahu saya sejawat saya tak ada yang melakukan hal itu. Cerita-cerita pun enggak pernah. Tapi kalau ada yang begitu, mereka mungkin yang tahu. Saya tidak pernah tahu,” kata dia.