PO Eka Mira: Kecelakaan Bus di Ring Road Sragen Akibat Lemparan Batu

Kondisi bus Eka yang terlibat kecelakaan di Jl. Ring Road Utara Sragen pada Rabu (10/4) malam terparkir di kompleks Mapolres Sragen, Kamis (11 - 4). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
11 April 2019 20:30 WIB Adib Muttaqin Asfar, Muh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SOLO -- Perusahaan Otobus (PO) Eka Mira angkat bicara soal kecelakaan bus Eka di Jl. Ring Road Utara, tepatnya Desa Tlobongan, Sidoharjo, Sragen, Rabu (10/4/2019) malam sekitar pukul 22.30 WIB. PO Eka Mira menyebut kecelakaan itu bukan kesalahan sopir, melainkan dipicu pelemparan batu yang menghantam bus.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Regu Kontrol PO Eka Mira, Sunarno, kepada Solopos.com di Griya Solopos, Kamis (11/4/219) sore. Penjelasan itu menanggapi pemberitaan Solopos.com sebelumnya tentang kecelakaan ini.

Sunarno mengaku mendapatkan informasi kecelakaan itu pada pukul 23.00 WIB. Karena posisinya berada di Pilangsari, dia ditugaskan untuk mengecek kondisi bus di lokasi kecelakaan.

"Saat itu bus melaju dari arah Pungkruk menuju Pilangsari atau dari barat ke timur. Sesampainya di Ringroad Utara Sragen, bus dilempari batu oleh pengendara motor yang tidak dikenal," kata Sunarno.

Menurut Sunarno, batu diduga berasal dari dua orang yang berboncengan mengendarai sebuah sepeda motor. Batu itu, kata Sunarno, berukuran cukup besar yakni sekepalan tangan. Karena cukup besar, batu itu menembus kaca depan dan menghantam mulut sopir, Eko P, 39, warga Juwangi, Kriyan, Sidoarjo.

"Setelah dilempar [kena batu], dia [sopir] banting setir ke kanan. Kebetulan dari arah berlawanan ada sepeda motor. Dua luka-luka dibawa ke RSU Sragen. Sepeda motor lainnya dikendarai suami istri. Istrinya meninggal, sedangkan suaminya retak tulang belakang," kata Sunarno.

Menurut Sunarno, saat ini pelaku pelemparan batu sudah ditangkap oleh polisi. Sunarno membantah bus tersebut ugal-ugalan. Dia mengklaim setiap bus Eka dan Mira dilengkapi speed alarm dan peralatan geo positioning system (GPS).

"Kalau lebih dari 90 km/jam, alarm dalam bus akan berbunyi. Hal itu juga termonitor di Kantor Pusat Eka Mira di Gilang, Surabaya," kata dia.

Akibat kecelakaan ini, sopir bus harus mendapatkan 10 jahitan di mulut, dengan dua gigi atas patah dan dua gigi bawah patah. "Kalau ada suara ban meletus itu bukan pas kejadian, tapi saat diderek," katanya.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, ada tiga sepeda motor yang menjadi korban dalam kecelakaan itu. Masing-masing dikendarai Agus, 18, warga Kedungwaduk Karangmalang Sragen, Galuh S. warga Jetak, Sidoharjo, Sragen, yang membawa serta Chiko Alvito, balita berusia 2,5 tahun, serta Partono, 44, warga Grompolan, Tangkil, Sragen, yang memboncengkan istrinya, Suprapti, 32.

"Motor terakhir, yang dipakai pasangan suami istri itu ringsek. Sang istri meninggal dunia di lokasi. Kebetulan saya masih punya hubungan saudara dengan korban. Mereka adalah karyawan pabrik di Purwosuman. Kebetulan mereka berdua dapat sif malam sehingga berangkat malam," jelas Warsono.

Setelah kejadian itu, jajaran Satlantas Polres Sragen bersama relawan dari PMI Sragen tiba di lokasi. Mereka lalu membawa pada korban ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Lima korban lainnya, termasuk sopir bus, mengalami luka-luka. Proses evakuasi Bus Eka itu berlangsung hingga Kamis pukul 03.00 WIB dini hari.

"Kondisi empat korban luka ringan, satu lainnya mengalami luka berat," terang Kepala Markas PMI Sragen, Wahdadi.