Caleg Demokrat Sunardi Siap Perjuangkan Nasib Guru

Sunardi, Caleg Partai Demokrat Dapil V Jateng. (istimewa)
12 April 2019 12:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengabdian tak lantas berakhir ketika memasuki purna tugas. Pengabdian sebagai pelayan masyarakat diemban hingga akhir hayat. Prinsip menjadi sang pamomong itulah yang menginspirasi Sunardi masih aktif di sejumlah organisasi ketika memasuki masa purnatugasnya sebagai PNS dengan jabatan terakhir Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten. Sunardi hingga kini masih aktif sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Klaten.

Prinsip itu pula yang memotivasi pria kelahiran 10 Agustus 1958 tersebut maju menjadi salah satu calon anggota legislatif (caleg) DPR. “Saya ingin menjadi pengasuh atau pendidik yang siap melayani, mendatangi, dan memberikan yang terbaik kepada siapa pun. Semboyan sebagai sang pamomong sudah saya pegang sejak dulu sampai kapan pun,” kata Sunardi saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (11/4/2019).

Pria yang tinggal di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, itu menjadi Caleg DPR Partai Demokrat untuk daerah pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah meliputi Klaten, Sukoharjo, Boyolali, dan Solo. Pemilu 2019 menjadi pengalaman pertama Sunardi terjun dalam kontestasi pemilihan legislatif (pileg) setelah berpuluh tahun menjadi guru SD hingga kepala dinas.

Sunardi menceritakan awalnya ia tidak memiliki rencana khusus maju menjadi salah satu caleg. Apalagi, ia sama sekali belum pernah menjadi pengurus atau anggota partai politik (parpol) tertentu. “Setelah ada dorongan dan motivasi dari teman-teman termasuk guru serta WB [wiyata bakti] dan beberapa parpol yang menyatakan minat untuk meminang saya, akhirnya saya memutuskan untuk maju melalui Demokrat,” kata Sunardi.

Alasannya maju melalui Partai Demokrat setelah ia bertemu langsung dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pertemuan itu bermula ketika para pengurus PGRI bertemu SBY menghadiri pemakaman Ketua Umum PGRI, Sulistyo, pada 2016 silam. SBY sempat berpesan agar perjuangan Sulistyo yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diteruskan.

Selang beberapa waktu menghadiri takziyah tersebut, Sunardi diundang dan bertemu SBY di Jogja. “Saat itu tidak ada pesan-pesan khusus. Pak SBY menepuk pundak saya dan mengajak saya bergabung mengabdi untuk negeri ini,” ungkapnya.

Sebagai mantan guru SD yang mengabdi sejak 1977, Sunardi paham betul berbagai persoalan pendidikan di Indonesia. Sunardi mengatakan pendidikan merupakan tonggak maju atau mundurnya suatu bangsa. Oleh sebab itu, pendidikan perlu digarap secara profesional dan serius. “Selama ini dari pengamatan saya seolah-olah pemerintah masih setengah-setengah,” katanya.

Ia menjelaskan pengelolaan pendidikan secara profesional tak hanya infrastruktur. Peningkatan profesionalitas tenaga pendidik dan kependidikan perlu diperbanyak untuk menghasilkan penerus bangsa yang bermutu. “Sebaik apa pun insfrastruktur pendidikan, tidak dapat berjalan kalau laku utama yakni guru berkualitas masih kurang. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan masalah kesejahteraan dan pofesionalisme. Saya prihatin dengan kondisi guru yang memiliki tugas berat, tetapi tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Termasuk para WB yang menjadi tumpuan utama dengan kondisi kekurangan guru yang sangat besar. Persoalan-persoalan ini yang perlu dikoreksi dan menjadi salah satu perjuangan saya,” ungkapnya.

Soal strateginya untuk terpilih sebagai anggota DPR, Sunardi mengaku tak memiliki strategi khusus. Ia juga memastikan tidak ada jadwal khusus untuk berkampanye. “Saya tidak melakukan persiapan ekstra. Saya melakukan kegiatan keseharian saja meliputi kegiatan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Setiap hari tidak ada jadwal kosong,” ungkapnya.

Bagi Sunardi, Dapil V bukan dapil yang berat. Ia pun menilai para caleg dari parpol lainnya bukan sebagai pesaing untuk mendapatkan jabatan sebagai anggota DPR periode 2019-2024. “Saya tidak mengatakan Dapil V itu berat. Di mana pun itu sebagai ladang perjuangan untuk berbuat baik. Bukan semata-mata untuk mendapatkan kemenangan, tetapi kesempatan berbuat baik yang lebih luas melalui tugas ke depan. Kontestan lain bukan sebagai lawan bagi saya. Saya memandang semua memiliki keinginan bersama untuk berbuat baik,” katanya.