Hujan dan Angin Kencang Intai Sukoharjo hingga Mei 2019

Pohon tumbang akibat puting beliung di Sukoharjo, Minggu (17/2 - 2019), menimpa kendaraan (Istimewa)
13 April 2019 18:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Jawa Tengah, mencatat 128 peristiwa bencana alam terjadi di Sukoharjo selama Januari-Maret atau triwulan I. Mayoritas bencana alam didominasi angin kencang atau lisus yang menerjang sejumlah lokasi di Sukoharjo.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Sri Maryanto, mengungkapkan ada tiga bencana alam yang terjadi di Sukoharjo yakni banjir, tanah longsor, dan lisus. Dia memerinci jumlah bencana alam yakni 13 banjir, 113 kejadian lisus, dan dua kejadian tanah ongsor.

“Bencana alam didominasi angin kencang atau lisus selama triwulan I. Angin kencang memorak-porandakan atap rumah dan menumbangkan pohon di pinggir jalan,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com, Rabu (10/4/2019).

Sri Maryanto mengurai bencana banjir terjadi di wilayah Weru, Grogol, Polokarto, dan Mojolaban. Keempat daerah itu dilewati Sungai Bengawan Solo dan Kali Samin. Saat hujan lebat dengan intensitas tinggi ketinggian air sungai bertambah secara signifikan. Dalam hitungan jam, air sungai meluap dan merendam rumah penduduk di dekat bibir sungai.

Sementara tanah longsor terjadi di wilayah Desa Tawang, Kecamatan Weru dan Desa Sanggang, Kecamatan Bulu. “Tebing tanah retak yang dipicu guyuran hujan lebat. Retakan tebing tanah langsur longsor menerjang dapur rumah penduduk. Tidak ada korban jiwa,” ujar dia.

Angin kencang kerap terjadi di wilayah Sukoharjo saat turun hujan lebat. Pada Januari, ada 28 kejadian lisus di wilayah Kecamatan Sukoharjo dan sekitarnya. Jumlah kejadian lisus melonjak tajam pada Februari yakni 72 kejadian. Sementara hanya 13 kejadian pada Maret 2019.

Tak menutup kemungkinan, hujan lebat yang disertai angin kencang kembali terjadi di Kabupaten Jamu pada April dan Mei.

“Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memperkirakan musim penghujan berakhir pada awal atau pertengahan Mei. Jadi masih ada potensi terjadi angin kencang dan banjir,” tutur dia.

Lebih jauh, Sri Maryanto menambahkan salah satu gejala angin lisus yakni awan hitam menggumpal sesaat sebelum hujan yang disertai angin kencang. Angin kencang dengan pusaran berbentuk lingkaran bakal menerjang dan memorak-porandakan rumah penduduk.

Salah seorang warga Desa Tegalmade, Kecamatan Mojalaban, Sukoharjo, Aden Mahendra, mengatakan warga setempat telah terbiasa dengan banjir saat musim penghujan. Warga Tegalmade, ungkap dia, tak kaget saat air Kali Samin meluap pada malam hari. Warga setempat memilih berdiam diri di rumah sembari menunggu banjir surut.