Januari-Maret 2019, 46 Bayi di Klaten Meninggal Dunia

Ilustrasi bayi (Reuters/Nicky Loh)
13 April 2019 11:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak 46 bayi meninggal dunia selama Januari-Maret 2019. Faktor penyebab bayi meninggal beragam. Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Bekti Sayekti, menjelaskan angka kematian bayi itu untuk usia nol hingga satu tahun. Kebanyakan kasus bayi meninggal dunia pada usia nol hingga 28 hari.

Bekti menjelaskan faktor kematian bayi kompleks. Kondisi sosial ekonomi keluarga ibu hamil hingga bayi dalam kandungan tak terpenuhi asupan gizinya menyebabkan bayi lahir dengan berat tubuh kurang dari 2,5 kg atau tidak ideal. Kondisi itu berisiko bayi meninggal dunia. Faktor lain seperti keterlambatan membawa ibu hamil berisiko tinggi ke rumah sakit.

Ibu hamil berisiko tinggi itu seperti memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Usia ibu hamil lebih dari 35 tahun. Jarak kehamilan terlalu dekat dengan kelahiran sebelumnya atau kurang dari dua tahun. Selain itu, ibu yang melahirkan lebih dari empat kali masuk kategori risiko tinggi.

Terkait angka kematian bayi selama Januari-Desember 2018, Bekti menjelaskan dari sekitar 17.000 ibu hamil, sebanyak 170 bayi meninggal dunia. Sementara, sepanjang 2017 tercatat sebanyak 168 bayi meninggal dunia. Angka kematian bayi meninggal dunia di Klaten termasuk 10 besar tertinggi di Jawa Tengah.

Bekti menuturkan selama ini sejumlah upaya sudah dilakukan. Upaya-upaya itu seperti melakukan intervensi gizi kepada ibu hamil. Selain itu, Dinkes mengampanyekan terkait pemberian ASI eksklusif kepada bayi selama 1.000 hari kehidupan. Kampanye itu termasuk penyediaan ruang laktasi di berbagai fasilitas umum, perusahaan, dan kantor organisasi perangkat daerah (OPD).

“Fasilitas umum seperti stasiun dan terminal sudah ada ruang laktasi. Begitu pula di sejumlah perusahaan dan layanan publik OPD sudah melengkapi fasilitas tersebut. Keberadaan ruang tersebut untuk memberikan ruang agar ibu menyusui bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayi. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi,” kata Bekti saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Jumat (12/4/2019).

Selain itu, Bekti menjelaskan upaya penurunan angka kematian bayi dilakukan dengan melibatkan instansi atau unsur lainnya seperti tokoh masyarakat dan tokoh agama. “Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu hamil dan bayi itu, kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu ada program lintas sektoral dan digarap bersama-sama,” ungkapnya.

Kepala Dinkes Klaten, Cahyono Widodo, mengatakan angka kematian ibu hamil selama 2018 tercatat sebanyak 13 orang. “Untuk angka kematian bayi lebih banyak. Soal faktor penyebab bayi meninggal dunia banyak. Salah satunya bisa karena kekurangan asupan nutrisi,” jelas dia.

Ia mengatakan ASI menjadi makanan terbaik bagi bayi. Dalam ASI, terdapat zat yang bisa mendukung kekebalan tubuh bayi. “ASI secara alamiah sudah sangat sesuai dengan kebutuhan nutrisi bayi,” urai dia.