Meriahnya Grebeg Sadranan Cepogo Boyolali Bikin Mahasiswa Asing Kepincut

Gunungan berisi makanan tradisional dan hasil bumi diarak ke luar Kompleks Kantor Kecamatan Cepogo, Boyolali, dalam acara Grebeg Sadranan, Minggu (14/4/2019) pagi. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
14 April 2019 19:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sudah sejak pukul 07.00 WIB Le Ngoc Ai Nhung, 25, berada di halaman Kantor Kecamatan Cepogo, Boyolali, Minggu (14/4/2019). Perempuan asal Vietnam ini mengurai sebagian rambutnya yang panjang mencapai punggung.

Dia mengenakan kebaya warna merah berpadu wastra bermotif parang yang dia lilitkan mirip jarit. Dua hari sudah Ai Nhung menetap di Boyolali. Sebelumnya dia mendapatkan informasi tentang acara Grebeg Sadranan di Cepogo, Minggu, dari seorang dosen di Jogja.

“Kemudian [saya] memutuskan datang ke Boyolali khusus untuk acara ini,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com di sela-sela acara.

grebeg sadranan

Warga berebut gunungan saat Grebeg Sadranan di Cepogo, Boyolali, Minggu (14/4/2019). (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Wajah perempuan yang berstatus mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini makin berbinar ketika melihat 14 gunungan disiapkan untuk diarak. Di hadapan Ai Nhung, ribuan warga Cepogo dan Boyolali tumpah-ruah di jalan-jalan sekitar kantor kecamatan.

Empat belas gunungan masing-masing tujuh berisi hasil bumi dan tujuh berisi jajan tradisional diarak kira-kira sejauh 500 meter dari Kantor Kecamatan Cepogo. Puluhan warga yang membawa gunungan merupakan perwakilan dari 15 desa di Cepogo.

Mereka mengenakan kain lurik dan belangkon yang menunjukkan identitas masyarakat Jawa. Arak-arakan gunungan dibarengi ratusan tenongan di belakangnya. Setiap desa membawa 21 tenongan yang masing-masing berisi makanan pokok.

Ada yang membawa gethuk, ayam goreng, maupun urap yang diletakkan dalam wadah dari anyaman bambu itu. Keempat belas gunungan kemudian diletakkan di halaman kantor kecamatan. Sementara ratusan tenongan tetap berada di pinggir-pinggir jalan berdekatan dengan ribuan warga yang menyaksikan kirab gunungan.

Warga membuka tutup tenongan secara serentak dan memperebutkan isi di dalamnya untuk dimakan bersama. Ritual ini dalam istilah Jawa lazim disebut kembul bujana atau makan bersama-sama.

“Tradisi yang ramai sekali dan menyediakan banyak makanan ini baru pertama saya lihat di Indonesia,” kata Ai Nhung yang telah menetap di Jogja dalam delapan bulan.

grebeg sadrana

Tari Topeng Ireng mengawali arak-arakan gunungan dalam Grebeg Sadranan di Cepogo, Boyolali, Minggu (14/4/2019) pagi. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Ai Nhung mengatakan di Vietnam acara kebudayaan yang melambangkan rasa syukur tak banyak dijumpai. Kalau ada pun relatif sepi karena hanya dihadiri keluarga terdekat.

Rasa takjub yang sama diungkapkan Diana, 27, warga Hongaria. Diana yang juga tinggal di Jogja setahun belakangan ini sengaja datang ke Cepogo untuk menyaksikan ritual sadranan. “Sebab di negara saya tidak ada ritual serupa,” tambah dia.

Diana menggulung rambutnya yang pirang. Penampilannya semakin jawa dengan atasan lurik yang dipadu batik.

Diana yang fasih berbahasa Indonesia ini juga tak henti-hentinya berdialog dengan warga lokal. Dari sana, perempuan itu tahu makna sadranan yang didefinisikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelum ke-14 gunungan dibawa kembali ke luar untuk diperebutkan, lantunan selawat dan doa dibaca bersama-sama dengan dipimpin pemuka agama. Tak berselang lama, belasan penari topeng ireng tampil mengawali arakan gunungan.

Gunungan berhenti di lokasi-lokasi yang ditentukan. Tak butuh waktu lama, warga yang telah menunggu sejak pagi segera menuju ke dekat gunungan yang akan diperebutkan.

Salah satu warga Cepogo, Rahmah, mengatakan masih meyakini hasil bumi dan makanan yang didapat dari gunungan bisa membawa keberkahan tersendiri dalam kehidupan. “Mungkin karena ada doanya, jadi semoga dapat berkahnya,” tutur dia.

Sementara itu, Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat, mengatakan sadranan merupakan agenda rutin tahunan bagi warga Cepogo. Dia berharap agenda ini tak sekadar menjadi agenda.

“Namun juga bisa meresapi tujuan sebenarnya dari sadranan, yaitu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan,” kata dia.

Said juga mengatakan inovasi sadranan bisa dilakukan untuk tahun-tahun yang akan datang. “Misalnya dengan menambahkan penjelasan mengenai sisi historis dari grebeg ini, bagaimana tradisi grebeg dapat berlangsung dari tahun ke tahun,” kata dia.