Sopir Bus LP Sragen Jadi Tersangka Kecelakaan di Klaten

Bus LP Sragen terparkir di unit Laka Polres Klaten setelah terlibat kecelakaan, Jumat (12/4/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
14 April 2019 16:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sopir bus Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen yang terlibat kecelakaan maut di simpang empat Karang, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jumat (12/4/2019) lalu, ditetapkan sebagai tersangka.

Sopir berinisial ER, 27, warga Desa Tangkil, Kecamatan/Kabupaten Sragen dinilai lalai mengemudikan bus dan menabrak pengendara sepeda motor meninggal dunia.

Kanitlaka Satlantas Polres Klaten, Ipda Panut Haryono, mewakili Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah polisi memiliki cukup bukti dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa para saksi termasuk warga di sekitar lokasi saat kecelakaan terjadi.

“Tersangka masih diperiksa di Unit Laka. Yang bersangkutan mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan karena itu memang menjadi hak bagi yang ditetapkan tersangka. Kami masih menunggu apakah surat permohonan penangguhan penahanan tersebut disetujui pimpinan atau tidak,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (13/4/2019) malam.

Kecelakaan itu terjadi ketika bus yang dikemudikan ER melintas di ruas jalan raya Solo-Klaten, Jumat pukul 05.30 WIB. Saat melaju di ruas jalan raya Solo-Klaten, ER membunyikan sirene dan menyalakan rotator.

Bus tetap melaju saat traffic light simpang empat Karang, Kecamatan Delanggu menyala kuning. Di saat bersamaan, sepeda motor Honda Vario yang dikendarai Martina Dewanti, 35, warga Desa Mrisen, Kecamatan Juwiring, Klaten, melaju dari arah Juwiring setelah traffic light menyala hijau.

Lantaran jarak terlalu dekat, bus menabrak sepeda motor yang dikendarai Martina. Akibat kejadian itu, Martina meninggal dunia meski sempat dilarikan ke RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten lantaran mengalami luka parah pada bagian kepala.

Polisi menilai ER lalai saat berkendara. Meski membunyikan sirene dan menyalakan rotator, ER semestinya memperlambat laju bus lantaran mendekati simpang empat.

“Pada Jumat sore kami mengecek kembali ke TKP. Dari arah Solo, kendaraan yang melintasi dari arah Juwiring tidak terlihat karena tertutup bangunan. Semestinya, saat melintasi simpang empat laju kendaraan diperlambat dan memperhatikan terlebih dahulu situasi lalu lintas di sekitarnya untuk memastikan tetap aman melaju,” urai Kanitlaka.

Di sisi lain, Kanitlaka menjelaskan membunyikan sirene dan menyalakan rotator kendaraan tak bisa sembarangan. Ada aturan yang harus dipatuhi hingga diperbolehkan membunyikan sirene dan menyalakan rotator seperti ketika kondisi darurat.

Saat kejadian, bus membawa penumpang 25 pegawai LP dan Bapas wilayah Soloraya tersebut menuju ke LP Cebongan, Kabupaten Sleman, DIY guna mengikuti kegiatan olahraga bersama.

Kanitlaka menjelaskan ER dijerat dengan Pasal 310 UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. “Untuk barang bukti yakni bus [LP Sragen] yang terlibat kecelakaan masih ditahan di Unit Laka Polres Klaten,” urai dia.