Sadranan Cepogo Boyolali, Perputaran Uang Bisa Mencapai Rp3 Miliar

Gunungan berisi makanan tradisional dan hasil bumi diarak ke luar Kompleks Kantor Kecamatan Cepogo dalam acara Grebeg Nyadran, Minggu (14/4/2019) pagi. Acara sadranan merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang melimpah dalam satu tahun. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
15 April 2019 06:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Tradisi sadranan di Cepogo, Boyolali, bakal menggerakkan ekonomi warga setempat. Diprediksi, akumulasi perputaran uang hingga seluruh prosesi berakhir bisa mencapai Rp3 miliar.

Perputaran ekonomi paling besar akan dirasakan di bidang pertanian dan pangan. Hitungan ini didasarkan atas rata-rata pengeluaran tiap keluarga di Cepogo yang bisa mencapai Rp3 juta hanya untuk acara sadranan.

Camat Cepogo, Insan Adi Asmono, mengatakan untuk keluarga kelas ekonomi menengah ke bawah biasanya akan megeluarkan biaya untuk prosesi sadranan senilai Rp500.000 hingga Rp1,5 juta.

Sementara keluarga kelas menengah ke atas pengeluarannya bisa mencapai Rp5 juta. “Jika seluruh keluarga di Cepogo mengeluarkan uang sebanyak itu maka perputaran uang bisa sampai Rp3 miliar,” imbuh Insan.

Tari Topeng Ireng mengawali arak-arakan gunungan dalam Grebeg Sadranan, di Kecamatan Cepogo, Minggu (14/4/2019) pagi.

Insan menyebut jumlah ini jauh lebih besar dari perputaran tahun lalu. Hal ini menurutnya lazim terjadi.

Salah satu penyebabnya adalah pola pikir warga setempat yang meyakini bahwa semakin banyak mengeluarkan biaya sadranan, maka rezeki/berkah yang diterima akan menjadi semakin banyak.

Besarnya perputaran uang ini dipandang sebagai keuntungan ekonomi bagi warga lokal. Oleh sebab itu, pemerintah kecamatan telah mengimbau agar seluruh bahan baku dalam prosesi sadranan menggunakan produk-produk yang dibuat oleh masyarakat lokal.

Kepala Desa Genting, Komedi, mengatakan rata-rata warganya akan mengeluarkan biaya Rp2,5 juta hingga Rp3 juta untuk serangkaian prosesi sadranan. Biaya itu dipukul rata bagi semua keluarga tanpa memandang kasta sosial.

Jika dihitung secara kasar, Desa Genting dihuni oleh sekitar 750 kepala keluarga (KK), itu berarti tradisi sadranan di desa ini bisa menggerakkan uang hingga senilai Rp2,2 miliar.

Warga berebut isi gunungan dalam acara Grebeg Sadranan di Cepogo, Minggu (14/4/2019).

Komedi menambahkan uang tersebut dikumpulkan oleh warga lewat sistem kas. Dalam satu tahun desa mengelola beberapa macam uang kas, seperti kas maulud, kas ruwahan, dan kas sadranan, sehingga beban biaya yang ditanggung tiap KK menjadi tidak terlalu berat jelang ritual tahunan ini.

Selain itu, warga di Genting juga memiliki ritual rutin ngedum beras atau berbagi beras antarkeluarga saat prosesi sadranan berlangsung. Ngedum beras dilakukan oleh seluruh KK di desa.

Sadranan di Cepogo dibuka dengan Grebeg Nyadran, Minggu kemarin. Selanjutnya, sebanyak lima belas desa di Cepogo akan melaksanakan agenda sadranan mulai Kamis (18/4/2019) dan berakhir Selasa (30/4/2019) dua pekan mendatang.

Ziarah

Sebagai gambaran, sadranan di Cepogo terlihat meriah bahkan lebih ramai dibandingkan Lebaran. Saat sadranan, warga akan memperbanyak sedekah.

Mereka juga akan kedatangan sanak saudara dari luar kota yang tujuannya tidak hanya nyekar atau ziarah ke makam keluarga tetapi juga bersilaturahmi ke rumah-rumah sanak saudara di Cepogo.

Untuk menyambut tradisi ini, warga Cepogo akan menjamu tamu mereka dengan berbagai macam hidangan. Inilah yang membuat ekonomi di Cepogo bergeliat saat sadranan.