100 Orang di Klaten Menguji Rasa Beras Rajalele Mutasi Genetik, Begini Hasilnya

Sejumlah panelis menguji rasa dan aroma nasi dari calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik di Pendapa Pemkab Klaten, Kamis (11/4/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
16 April 2019 08:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten menguji rasa dan aroma nasi dari calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik. Uji rasa dan aroma tersebut menjadi serangkaian pengujian sebelum beras hasil riset kerja sama dengan Batan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tersebut memasuki sidang pelepasan varietas.

Uji rasa dan aroma dilakukan di Pendapa Pemkab Klaten, Kamis (11/4/2019) siang. Pengujian melibatkan 100 panelis terdiri dari pejabat Pemkab, perwakilan organisasi perangkat daerah, petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengusaha katering, hingga pengusaha beras. Para panelis merasakan nasi yang dimasak dari sembilan calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik. Sebagai pembandingnya, mereka merasakan nasi dari tiga varietas padi yakni mentik wangi, sintanuri, serta rajalele. Para penguji diminta mengisi kuisoner meliputi warna, tekstur, kilap, rasa, kepulenan, serta penerimaan umum dari setiap nasi yang diujikan.

Kepala Bappeda Klaten, Sunarna, mengatakan uji rasa dan aroma menjadi tahapan akhir. Hasil pengujian menjadi lampiran proposal untuk didaftarkan mengikuti sidang pelepasan varietas di Kementerian Pertanian (Kementan).

“Kami minta pendapat masyarakat Klaten yang bakal menjadi konsumen. Silakan menentukan bagaimana rasa dan aroma calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik. Hasil pendapat masyarakat ini menjadi lampiran proposal untuk diajukan ke sidang pelepasan di Kementan,” kata Sunarna saat ditemui wartawan di sela-sela pengujian.

Ia menjelaskan setelah melalui sidang pelepasan varietas, padi rajalele hasil mutasi genetik bisa diluncurkan sebagai varietas baru dan menjadi produk unggulan Klaten. “Harapan kami ini menjadi produk unggulan Klaten yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelas dia.

Salah satu pengusaha katering asal Trucuk, Windarti, mengatakan nasi dari padi rajalele hasil mutasi genetik pulen serta wangi. “Namun, dari pengujian ini tadi saya merasa untuk nasi yang diujikan pada nomor empat paling enak karena saat dikunyah itu lembut,” kata Windarti yang menjadi salah satu panelis.

Salah satu petani asal Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Suwarto, mengatakan nasi dari salah satu calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik berasa manis dan gurih serta beraroma wangi. Suwarto setahun terakhir menjadi salah satu petani yang ikut mengembangkan calon varietas padi hasil pengembangan Pemkab dan Batan tersebut.

“Kalau dibandingkan rasa nasi rajalele sebelumnya, memang lebih nikmat yang dulu. Karena kondisinya juga berbeda. Kalau dulu makan sehari-hari hanya tiwul kemudian merasakan nasi rajalele tentu lebih nikmat,” katanya.

Peneliti tanaman padi dari Batan, Sobrizal, menjelaskan riset pengembangan padi rajalele kerja sama Pemkab dan Batan dilakukan sejak 2013. Pengembangan dilakukan untuk memperbaiki kualitas padi rajalele lokal yang identik dengan nasinya yang pulen serta aromanya yang wangi namun memiliki kelemahan dari sisi umur serta ketinggian tanaman.

Riset dilakukan dengan teknik nuklir melalui iradiasi sinar gama. Dari radiasi itu terjadi mutasi genetik hingga menimbulkan perubahan sifat yang beragam. Dari berbagai perubahan sifat, didapatkan calon varietas padi rajalele dengan usia panen 115 hari, lebih singkat dibanding rajalele indukan yakni 155 hari. Sementara, tinggi padi rojolele bisa diperpendek dari 150-155 sentimeter menjadi 110-120 sentimeter sehingga tanaman tidak mudah rebah.

Ia menjelaskan serangkaian tahapan dilalui agar padi hasil riset tersebut lolos sebagai varietas baru. Tahapan itu seperti uji daya hasil atau adaptasi yang didapatkan hasil panen calon varietas padi rajalele mutasi genetik mencapai 10 ton/ha atau lebih banyak dibanding rajalele indukan yakni 7 ton/ha. Selain itu, ada uji ketahanan hama dengan menguji calon varietas terhadap serangan hama dan penyakit seperti wereng batang cokelat serta penyakit hawar daun.

Sobrizal menjelaskan sesuai keinginan Bupati, calon varietas padi rajalele hasil mutasi genetik hanya dikembangkan di Klaten sementara hasil produksinya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Lantaran ditargetkan menjadi varietas lokal, nasi dari padi hasil riset tersebut perlu diuji oleh perwakilan warga Klaten.

“Setelah serangkaian uji selesai, kami susun proposal untuk didaftarkan ke tim pelepasan varietas. Setelah melalui sidang pelepasan, nanti ada SK dari Menpan sebagai dasar untuk melepas varietas ini. Kami harapkan sidang pelepasan bisa dilakukan pada semester I 2019,” ungkapnya.