Perempuan Wonogiri Jadi Tersangka Pembunuh Caleg Sragen, Ini Kata Kerabat dan Tetangga

Rumah N/Nur di Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. (Solopos - Rudi Hartono)
22 April 2019 16:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Perempuan asal Wonogiri berinisial N, 41, yang menjadi tersangka pembunuh calon anggota legislatif (caleg) DPRD Sragen dari Partai Golkar Sugimin dikenal sombong dan tertutup di kampungnya.

Kendati demikian, kerabat dan para tetangganya tak menyangka N ternyata juga berdarah dingin alias kejam. Selama ini, mereka tak ingin tahu urusan N karena merasa tak dihargai.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Senin (22/4/2019), N tinggal di Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri. Warga mengenalnya dengan nama Nur. Dia menikah dengan warga setempat sejak sekitar sembilan tahun lalu.

Keduanya memiliki satu anak yang kini berusia sekitar sembilan tahun. Selama delapan tahun mereka tinggal di kampung tak jauh dari SMPN 1 Wonogiri itu. Sejak setahun lalu Nur bersama suaminya menempati rumah milik orang tua suami Nur di kawasan itu.

Nur memiliki usaha konfeksi yang dijalankan di rumah mereka. Usahanya mengerjakan pakaian olahraga sekolah, seragam pencak silat, seragam organisasi, dan sebagainya. Tempat usaha Nur kerap didatangi orang yang tidak dikenal warga.

Pantauan Solopos.com, Senin siang, rumah Nur sepi, tidak ada orang satu pun. Lantai depan rumah kotor seperti sudah lama tak disapu. Lampu jalan menyala.

Warga sekitar, Wd, menginformasikan rumah Nur kosong sejak kabar pembunuhan yang diduga melibatkan Nur mencuat. Wd tak mengetahui sekarang suami Nur tinggal di mana.

Sebelum ada kasus itu rumah Nur setiap hari ada aktivitas. Sejumlah pekerjanya mengerjakan pesanan konfeksi. Selain itu ada aktivitas pekerja yang membangun bangunan di dekat rumah Nur saat ini.

“Orangnya tertutup. Bu Nur hanya kadang bicara pada orang-orang tertentu,” kata Wd.

Menurut tetangga yang juga kerabat Nur, To, Nur seperti orang asing di keluarga besar. Keluarga besar suami Nur tak cocok dengan Nur karena Nur angkuh dan sombong. Jika berbicara, Nur kerap menyombongkan ekonominya yang lebih baik daripada tetangga atau keluarga besarnya, seperti memiliki gaji tinggi dan lain-lain.

To pun merasa tak dihargai. Meski sering berkendara melewati rumah To, Nur tak pernah menyapa atau sekadar menoleh ke arah rumah To.

“Sama keluarga besar saya enggak menghargai. Mungkin Nur merasa pendidikannya tinggai jadi enggak level dengan kami yang orang kampung. Saya hanya mendengar katanya Nur itu dosen di salah satu daerah di Jawa Timur,” ulas To.

Dia melanjutkan dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap hari Nur memarahi suaminya yang merupakan keponakan To. Namun, suaminya tak pernah melawan. To mengibaratkan suami Nur hanya dianggap seperti keset yang setiap saat diinjak-injak.

Bahkan, mertua Nur yang juga kakak To juga tak luput dari amarah Nur ketika ada di rumah. Mertua Nur saat ini merantau di luar Pulau Jawa dan pulang kampung saat Lebaran.

“Kalau sedang memarahi suaminya, Nur seperti orang stres [kalap atau emosi tak terkendali],” imbuh To.

To tak menyangka selain sombong, Nur ternyata berdarah dingin. Dia sangat kaget saat mendengar informasi Nur menjadi tersangak pembunuh Sugimin, calon anggota DPRD Sragen dari Partai Golkar, menggunakan racun.

Saat ditanya di mana suami Nur sekarang tinggal, To mengaku tak mengetahui. Dia hanya menginformasikan sebelum Nur dan suaminya tinggal di Gunung Kukusan, mereka tinggal di rumah orang tua Nur di kawasan kota Wonogiri.

Terkait Sugimin, To tak mengenalnya. Namun, setelah kabar terungkapnya kasus pembunuhan itu mencuat, beredar informasi Sugimin pernah beberapa kali datang ke rumah Nur. Warga mengetahuinya setelah melihat foto Sugimin yang tersebar melalui media sosial (medsos).

Sebagaimana diinformasikan, N alias Nur sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kematian Sugimin. Polisi menangkapnya pada Selasa (16/4/2019), hari yang sama dengan kematian Sugimin.

Kepada polisi, Nur mengaku telah meracuni Sugimin, tidak hanya sekali tetapi sampai tiga kali, menggunakan racun tikus. Motif pembunuhan itu karena sakit hati terkait masalah bisnis.