Ayo Mencicipi Tempe Produksi Desa Ngasinan Bulu Sukoharjo

Pengrajin tempe di Dukuh Gampingan, Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo tengah menata tempe yang siap dipasarkan, Minggu (21/4 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
23 April 2019 06:40 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, berada di bagian selatan Kabupaten Sukoharjo. Sebagian wilayahnya adalah perbukitan kecil yang tersebar di Mloyo, Gampingan, dan Pager Gunung.

Selain itu Ngasinan juga memiliki wilayah persawahan. Desa dengan luas wilayah 3.79 kilometer persegi ini sebagian besar warganya selain petani juga pekerja "boro" yang mengais rezeki di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya. Tak hanya itu penduduk setempat juga berprofesi sebagai tukang kayu, pengrajin tahu dan tempe.

Industri tahu dan tempe saat ini berkembang di wilayah Ngasinan. Usaha tersebut merupakan diwariskan secara turun temurun. Kepala Desa Ngasinan, Ibnu Wiyatno, mengatakan usaha tahu tempe terbesar di wilayah Gampingan, Pengkol,  dan Kebokuning.

"Di masing-masing dukuh ada dua hingga tiga pengrajin tahu dan tempe," kata dia saat berbincang dengan Solopos, Minggu (21/4/2019).

Usaha pembuatan tahu dan tempe ini menjadi salah satu potensi desa bagi Ngasinan. Industri yang masih berstatus rumahan ini mampu meningkatkan perekonomian warga setempat. Berbagai upaya pun dilakukan desa untuk membantu pengembangan usaha tahu dan tempe, seperti memberi pelatihan tentang pengemasan dan pemasaran produk tersebut. Dengan harapan produk tahu tempe Ngasinan bisa bersaing dengan daerah lain di luar Sukoharjo.

Salah satu pengrajin tempe di Dukuh Gampingan RT002 RW 009 Desa Ngasinan, Arifin Sinung Nugroho, mengaku mulai merintis usaha tempe sejak dua tahun terakhir. Dia melirik usaha tempe karena dinilai memiliki prospek dan pangsa pasar yang tidak pernah mati. Usaha ini pun dirintis melihat prospek usaha keluarganya yang secara turun temurun masih berjalan hingga saat ini.

"Saya melihat usaha ibu yang sampai sekarang masih berjalanan. Kemudian saya membuka usaha sendiri dan sudah berjalan dua tahun ini," katanya.

Meski masih tergolong baru, namun usaha tempenya sudah memiliki pangsa pasar sendiri. Selain dipasok di wilayah Kecamatan Bulu juga sudah dipasarkan ke beberapa wilayah lainnya. Dalam sehari pihaknya mampu memproduksi hingga 60 kilogram (kg) tempe, dengan omzet rata-rata per hari mencapai Rp600.000-an lebih.

"Saat merintis awal, kami belum memiliki alat untuk pemecah kedelai. Sehingga pemecah kedelai kami  lakukan secara manual. Sekarang kami sudah punya alat untuk pemecah kedelai itu," katanya.

Dia hanya berharap pengembangan usaha tempe terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah, baik dalam pelatihan berwirausaha maupun dukungan dana atau peralatan. Bantuan ini dinilai penting untuk memajukan usaha rumahan menjadi insdustri besar dan mampu memasok tempe hingga ke luar daerah.