5 Caleg Petahana DPRD Sragen Tumbang, 2 Lainnya Meninggal Dunia

Ilustrasi caleg. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
23 April 2019 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Lima calon anggota legislatif (caleg) petahana DPRD Sragen tumbang sementara dua petahana lainnya tak bisa ikut berkompetisi karena meninggal dunia sebelum pencoblosan Pemilu, 17 April 2019 lalu. 

Lima caleg petahana yang tumbang berdasarkan hasil perolehan suara sementara yakni Subandono dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Dwi Agus Setyani dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Heru Agus Santoso dari Partai Golkar, Atik Sri Hartati dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Suharjo dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sedangkan dua caleg petahana yang meninggal dunia, yakni Sutrisno dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Sugimin dari Partai Golkar. Sugimin meninggal sehari sebelum pencoblosan karena dibunuh di Wonogiri.

Caleg PDIP Daerah Pemilihan (Dapil) VI Sragen Suharjo mengaku pasrah harus meninggalkan kursi DPRD Sragen setelah menjabat selama tiga periode. Suharjo mengaku memiliki amunisi terbatas untuk bertarung dalam Pemilu Legislatif 2019. 

Dia merasa berjuang sendiri sehingga harus rela menerima kekalahan. PDIP di Dapil VI mendapat dua kursi untuk Sugiyarto dan Wulan Purnamasari. Kursi Suharjo diduduki Wulan yang juga istri dari Ketua DPC PDIP Sragen Untung Wibowo Sukowati.

Selain Suharjo, Heru Agus Santoso yang bertarung di Dapil VI Sragen juga dipaksa menyerah. Di Dapil Karangmalang, Kedawung, dan Ngrampal ini awalnya Partai Golkar memiliki dua kursi yang diduduki Thohar Ahmadi dan Heru. 

Namun setelah pertarungan yang ketat pada Pemilu Legislatif 2019, Golkar hanya mendapat 16.500 suara sehingga tidak memungkinkan untuk mengejar suara pada bilangan pembagi angka 3 pada system sainte lague. 

“Dengan 16.500 suara bila dibagi 3 kalah sama partai lain. Caleg Golkar lainnya juga kurang maksimal,” ujarnya.

Masih di Dapil VI Sragen, caleg petahana dari PKB Atik Sri Hartati juga harus keluar dari DPRD Sragen. Kursi Atik digeser pendatang baru PKB, yakni putra Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen Ma’ruf Islamuddin yang maju di nomor urut 2 atas nama Muhammad Bahrul Mustawa. 

“Suara saya kalah sama anaknya Pak Ma’ruf. Meskipun pemula dapat suara 6.000-an lebih tetapi saya hanya 3.500-an suara. Ya, ini jalan terbaik buat saya. Insya Allah, saya siap. Saya terjun ke politik sudah lama sehingga tidak kaget. Kalau tidak menang ya kalah,” ujarnya.

Caleg petahana lainnya yang tumbang Dwi Agus Setyani dari Partai Hanura yang bertarung di Dapil I Sragen (Sragen, Sidoharjo, Masaran) mengaku politik transaksional pada Pemilu Legislatif 2019 ini semakin menjadi-jadi sehingga sulit untuk melawannya. 

Evaluasinya terletak pada persoalan rekrutmen kader potensial di internal partai karena persoalan internal partai di tingkat pusat. “Saya di Dapil I itu juga bertarung sendiri dan berat karena harus melawan balung gajah semua. Kekuatan PDIP memang luar biasa saat dibarengkan dengan Pilpres. Selama menjadi legislator, saya amanah dan tidak ada persoalan dengan konstituen. Namun, pada pemilu kali ini massa konstituen tak mengamanahkan suara kepada saya lagi. Mereka lebih memilih uang daripada figur,” ujarnya.

Dwi mengaku ikhlas menerima kekalahan itu. Dia berharap teman-teman petahana yang kembali menjadi legislator lebih amanah dalam menerima mandat rakyat. Dwi akan kembali menekuni usahanya di bidang advertising bersama rekan-rekannya di Solo.