Pembunuhan Caleg Golkar Sragen: Seorang Perempuan Ikut Antar Sugimin ke RS, Pelaku?

Petugas RSUD Wonogiri mengusung jenazah Sugimin, caleg Partai Golkar Sragen, ke mobil ambulans untuk dibawa ke RSUD dr. Moewardi Solo, Selasa (16/4/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
23 April 2019 14:45 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Teka-teki di balik kasus pembunuhan calon petahana anggota DPRD Sragen dari Partai Golkar, Sugimin, di Wonogiri sedikit demi sedikit terungkap.

Namun demikian masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab. Salah satunya tentang siapa perempuan yang ikut mengantar Sugimin ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri pada Selasa (16/4/2019) dini hari. Sampai saat ini belum diketahui apakah perempuan itu N atau orang lain.

Informasi mengenai seorang perempuan yang ikut mengantar Sugimin diperoleh Solopos.com dari petugas satuan pengamanan (satpam) IGD RSUD Wonogiri, Lexca Helga, 22, saat ditemui wartawan, Selasa siang.

Lexca menyampaikan Sugimin dibawa ke IGD oleh tiga orang, yakni Mugiono alias Mudin, Nurwanto, dan seorang perempuan. Lexca tak mengetahui identitas perempuan tersebut.

Dia hanya ingat saat itu Nurwanto tidak ikut masuk dan hanya menunggu di suatu tempat di luar kompleks IGD. “Waktu itu bapak yang bernama Nurwanto itu sama sekali tak mendekat ke IGD,” kata Lexca.

Hubungan Keluarga

Pertanyaan lain yakni soal hubungan tersangka N dengan Mugiono dan Nurwanto. Sebagaimana diberitakan, N meminta Mugiono membuat cerita fiktif bahwa Sugimin dalam kondisi tak sadar di depan ruko dekat SMPN 1 Wonogiri, Senin (15/4/2019) malam lalu.

Cerita fiktif itu dibuat untuk menutupi kisah sebenarnya di mana N sebelumnya telah menelepon Mugiono untuk meminta bantuan membawa Sugimin yang saat itu dalam kondisi tak sadar ke rumah sakit.

Berdasarkan penelusuran Solopos.com, ada sejumlah petunjuk yang mengarah pada hubungan antara N, Mugiono, dan Nurwanto. Informasi yang dihimpun Solopos.com dari warga sekitar tempat tinggal N di Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri, Senin (22/4/2019), N memiliki suami bernama Nurwanto.

Saat ditemui di toko pakaian dan sepatu miliknya di utara SMPN 1 Wonogiri, pekan lalu, Mugiono menyatakan Nurwanto adalah anaknya yang mencarikan mobil dan mengantarkannya membawa Sugimin yang sudah dalam kondisi tak sadarkan diri ke IGD RSUD Wonogiri.

Solopos.com tak menanyakan ihwal N karena saat itu polisi belum mengungkap N sebagai tersangka utama. Petunjuk mengenai hubungan Mugiono dengan N diperoleh Solopos.com berdasar keterangan dari berbagai sumber.

Berdasarkan sumber tersebut, identitas N ditulis dengan disertai informasi hubungan kekeluargaan, yakni binti Mugiono alias Mudin. Salah seorang warga dan kerabat N di Kelurahan Giriwono, To, mengaku tak mengetahui nama orang tua N.

Dia hanya mengetahui nama orang tua Nurwanto, suami N. Sementara itu, Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani, juga belum bisa dimintai informasi terkait hubungan N dengan Mugiono dan Nurwanto.

Gelar Tersangka

AKP Aditia meminta Solopos.com memperbarui informasi saat gelar tersangka dan barang bukti di Mapolres, Rabu (24/4/2019) pukul 13.00 WIB mendatang. Sebelumnya, saat dimintai konfirmasi terkait hubungan N dengan Mugiono, Aditia menyatakan penyidik masih mendalami hubungan kedua orang itu.

Saat ditanya apakah Mugiono keluarga N, Aditia hanya tersenyum sambil mengatakan semua akan terungkap pada waktunya. Seperti diketahui, Aditia menyebut setelah membunuh Sugimin dengan memberinya racun tikus, N berusaha menghilangkan jejak.

Dia meminta Mugiono membawa Sugimin yang sudah tak sadarkan diri ke IGD RSUD Wonogiri. N juga meminta Mugiono menyampaikan kepada petugas IGD bahwa Sugimin ditemukan dalam kondisi sekarat di depan toko Mugiono sisi utara SMPN 1 Wonogiri.

Mugiono pun memenuhinya. Tak lama kemudian informasi ditemukannya seorang lelaki di depan toko sisi utara SMPN 1 sekarat menyebar. Saat ditemui Solopos.com pun Mugiono mengaku menemukan Sugimin di depan tokonya.

Pada Selasa sore, polisi menangkap N. Setelah itu polisi mengetahui bahwa cerita Sugimin ditemukan di depan toko Mugiono itu fiktif. Mugiono hanya disuruh N membuat cerita itu agar Sugimin tidak dikaitkan dengan N.

Meski membantu N dalam upaya menghilangkan jejak, Aditia menyebut Mugiono tidak mengetahui penyebab kematian Sugimin. Menurut Aditia, Mugiono tak terkait langsung dalam aksi pembunuhan tersebut.

“Setelah mengantarkan korban ke RSUD, Mugiono secara resmi melapor ke SPKT Polres. Dalam laporannya dia mengaku menemukan korban di depan tokonya. Ternyata cerita itu fiktif. Artinya laporan itu palsu. Itu memungkinkan ditindaklanjuti. Tapi saat ini kami fokus menangani perkara utama dulu,” kata Aditia.