Grebeg Penjalin Trangsan Sukoharjo Siap Digelar, Ini Deretan Acaranya

Seorang pekerja membuat gapura yang terbuat dari rotan di Halaman Kantor Kepala Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Selasa (23/4 - 2019). (Solopos/Bony Eko W.)
24 April 2019 23:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO–Sebanyak 20 komunitas seni dan budaya bakal memeriahkan Grebeg Penjalin 2019 di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo,  pada 29 April-5 Mei.  Event budaya itu bakal melibatkan sekitar 7.500 peserta mulai dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa.

Grebeg Penjalin 2019 merupakan event ke-4 yang diselenggarakan kali pertama pada Oktober 2016. Kala itu, sekaligus diluncurkan desa wisata kerajinan rotan di Desa Trangsan. Grebeg Penjalin 2019 bakal menjadi acara puncak yang dimeriahkan 20 komunitas seni dan budaya seperti baju rotan carnival, permainan holahop dan pengrajin rotan.

Lima gunungan berisi berbagai produk kerajinan rotan bakal dikirab melewati jalan perkampungan menuju Kantor Kepala Desa Trangsan pada Selasa (30/4/2019). Lima gunungan itu bakal diperebutkan masyarakat setelah dikirab. “Grebeg Penjalin menjadi momentum kebersamaan dan kekompakan para pengrajin lokal berskala kecil hingga besar. Selain kirab gunungan, beberapa komunitas seni dan budaya bakal unjuk gigi seperti permainan holahop raksasa, parade baju rotan carnival hingga mobil hias rotan,” kata Sekretaris Panitia Grebeg Penjalin IV, Ucok Suwarto, saat ditemui wartawan di Pendapa Kantor Kepala Desa Trangsan, Selasa (23/4/2019).

Grebeg Penjalin difokuskan untuk branding dan mempromosikan desa wisata kerajinan rotan kepada masyarakat. Dengan kekompakan dan kebersamaan, bukan mustahil kerajinan rotan bakal merajai pasar luar negeri dan lokal. Selama ini, sekitar 95 persen produk kerajinan rotan diekspor ke luar negeri seperti Belanda, Jerman serta beberapa negara di Amerika Latin.

Padahal, potensi pangsa pasar lokal kerajinan rotan cukup tinggi. “Grebeg Penjalin menjadi momentum untuk menggairahkan kembali bisnis rotan. Selain kirab budaya, ada beberapa kegiatan lainnya seperti bazar produk kerajinan rotan, workshop hingga pertunjukan wayang kulit,” papar dia.

Sementara itu, seorang pengurus Forum Rembuk Klaster Rotan, Suparji, mengatakan jumlah pengrajin rotan pada era 1990-an mencapai lebih dari 400 orang. Lantaran bisnis rotan makin lesu sebagian pengrajin rotan merosot. Mereka berupaya menjaga eksistensi kerajinan rotan baik di level nasional maupun internasional.

Kenaikan permintaan order kerajinan rotan dari dalam negeri berlipat ganda sejak pelaksanaan Grebeg Penjalin pada 2017. Kala itu, berbagai produk kerajinan rotan mulai dari kursi, meja hingga perabotan rumah tangga dipamerkan di lokasi bazar kerajinan rotan. Imbasnya, permintaan order kerajinan rotan dari pasar lokal meningkat secara signifikan. “Sasaran utama adalah pangsa pasar lokal yang selama ini jarang tersentuh. Potensi pangsa pasar lokal di Soloraya cukup menjanjikan,” kata dia.