Penari Ini Berhenti Merokok Demi Menari 24 Jam Peringati HTD di Solo

Anak-anak belajar Tari Jaranan saat sesi latihan Solo Menari 2019 di Stadion Sriwedari, Solo, Selasa (23/4 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
25 April 2019 14:45 WIB Ika Yuniati Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melibatkan ribuan murid Sekolah Dasar (SMP) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada puncak perayaan Hari Tari Dunia (HTD) akhir bulan ini. Mereka akan mementaskan tari Jaranan massal di Stadion Sriwedari Solo, Senin (29/4/2019). 

Kepala Bidang Kesenian Sejarah dan Sastra Dinas Kebudayaan Solo, Maretha Dinar Cahyono, Senin (23/4/2019), mengatakan tari yang mereka bawakan adalah gaya Surakarta garapan Dosen Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, S. Pamardi.

Karya ini, ungkap dia, sangat familiar dengan murid sekolah di Solo karena sering dijadikan sebagai materi ekstrakurikuler, diajarkan di sanggar-sanggar, dan menjadi bahan lomba Porseni SD tingkat Jawa Tengah.

“Pada dasarnya tari Jaranan menurut jenisnya itu tari tunggal. Tetapi tari Jaranan dapat ditarikan pasangan, kelompok, atau tari massal seperti yang akan dibawakan nanti,” kata dia.

Selesai menari, ungkap dia, sebanyak 5.000an peserta bakal membentuk tiga konfigurasi pentas membentuk pulau-pulau se-Indonesia, frasa Solo Menari 2019, dan terakhir frasa Solo Kota Budaya. Pada Senin sore lalu mereka berlatih bersama selama hampir dua jam.

Mereka pentas diiringi live gamelan. Semua peserta datang dengan membawa properti replika kuda kepang. Maretha mengatakan akhir pekan nanti mereka bakal melakukan satu kali latihan dan gladi resik.

“Persiapannya sudah cukup matang. Semua peserta hari ini datang latihan. Sesuai rencana kami ada 5.000 peserta yang semuanya penari anak-anak dan remaja,” kata dia.

Tari Jaranan merupakan pentas massal kedua yang diadakan Pemkot Solo untuk menyambut HTD. Tahun lalu mereka menggelar pentas 5.000 penari gambyong di sepanjang Jl. Slamet Riyadi.

Tak hanya Pemkot Solo, tahun ini ISI Solo juga kembali merayakan HTD dengan tajuk 24 Jam Menari. Acara digelar selama 24 jam mulai Senin (29/4/2019) hingga Selasa (30/4/2019) pagi di area Kampus I ISI dengan menghadirkan 6.000 penari kelompok dan enam penari 24 jam. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa perwakilan luar negeri.

Salah satu penari 24 jam, Sri Hadi, 60, sudah melakukan persiapan khusus sejak sebulan lalu. Ia jogging setiap pagi, mengolah tubuhnya dengan gerak tari, dan mendengarkan musik tradisi untuk melatih kepekaan.

“Saya itu peminum dan perokok. Sehari bisa tiga sampai empat bungkus rokok. Agar bisa menyelesaikan tantangan menari 24 jam ini saya mulai berhenti merokok sejak sebulan lalu,” kata dia.

Sri Hadi bakal membawakan dua karya barunya berjudul Suluk Bisma dan Sastra Jiwangga. Suluk Bisma terinspirasi dari jalan hidup sang Bisma, sementara Sastra Jiwangga diadaptasi dari serat Jaman Edan milik Ranggawarsita. Masing-masing dipentaskan selama 15 hingga 20 menit. Sisanya ia pentas sesuai dengan konsep yang telah disiapkan oleh panitia hingga selesai 24 jam.

“Pentasnya tak sendirian. Di Sastra Jiwangga misalnya, saya akan mengajak penonton ikut pentas. Menjadi bagian dari karya saya. Selebihnya saya ikut konsep yang disiapkan panitia. Tahun ini memang sedikit beda, kami harus merespons apa yang sudah digarap panitia. Ya sedikit susah sih dari tahun sebelumnya. Tapi ini malah jadi tantangan buat saya,” kata dia.