Kisah Petugas Pengawas TPS Sragen Yang Keguguran Saat Bertugas

Ilustrasi petugas KPPS menjalankan tugas sejak Rabu (17/4/2019) pagi hingga Kamis (18/4 - 2019) dini hari. (Antara/M. Faisal Hanapi)
25 April 2019 23:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Nita Safitri, 38, sangat bangga ketika dirinya bisa bergabung menjadi pengawas tempat pemungutan suara (TPS). Bukan karena honor senilai Rp550.000 tapi menjadi bagian dari tim yang menyukseskan Pemilu 2019 adalah pengalaman berharga bagi warga Dusun Sidorejo RT 013, Desa Kalikobok, Kecamatan Tanon, Sragen ini.

Namun, pengalaman berharga itu rupanya dia bayar dengan mahal. Janin berusia sekitar dua bulan dalam kandungannya gugur saat Nita bertugas menjadi pengawas TPS 7 Desa Kalikobok pada Rabu (17/4/2019) lalu.

“Pada Selasa, 16 April saya sudah mulai bertugas di TPS untuk menunggu kedatangan logistik pemilu. Pada Rabu, saya sudah standby pukul 06.30 WIB di TPS untuk mengikuti pembukaan dan pengambilan sumpah dan janji petugas KPPS,” tulis Nita Safitri tentang kronologi keguguran yang dialaminya sebagaimana dibacakan Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan Tanon, Agus Salim, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (24/4/2019).

Pada saat berlangsungnya proses penghitungan suara calon DPRD Provinsi Jateng, Nita Safitri mulai merasakan perutnya mulas. Ia juga merasakan perutnya lebih kencang.

Ia lalu meminta izin ke kamar mandi. Saat di kamar mandi itulah, ia melihat sudah terjadi pendarahan. Dalam kondisi seperti itu, Nita masih berusaha memaksakan diri tetap terlibat dalam pengawasan Pemilu 2019.

“Saya pulang untuk memakai pembalut dan kembali ke TPS lagi untuk mengawasi penghitungan suara,” terang Nita.

Semakin malam, Nita merasakan rasa sakit luar biasa pada perutnya. Ia lalu meminta suaminya mengantarnya ke bidan desa. Selanjutnya ia meminta izin untuk tidak melanjutkan pengawasan di TPS 7.

“Pada 18 April saya dirujuk ke RSUD [dr. Soeratno] Gemolong. Karena tidak ada dokter, saya dirujuk ke RSUD [dr. Soehadi Prijonegoro] Sragen. Sampai di sana sudah dinyatakan keguguran, kemudian dilakukan tindakan kuretase pada 20 April,” jelas Nita yang harus merelakan kepergian jabang bayi calon anak ketiganya tersebut untuk selama-lamanya.

Apa yang dialami Nita menambah panjang rangkaian duka petugas Pemilu 2019. Di berbagai daerah, banyak petugas yang berguguran seusai menjalankan tugas sebagai penyelenggara, pengawas, maupun petugas pengamanan lokasi pemungutan suara.

Berat dan lamanya tugas menjadi penyebab mereka mengalami kelelahan, sakit, dan bahkan meninggal dunia. Salah satunya Suminto, pengawas TPS 3 Desa Karangasem Kecamatan Tanon yang harus dilarikan ke RSUD dr. Soeratno Gemolong karena kecapaian saat bertugas.

“Suminto sempat diopname di Puskesmas Karangasem sebelum dirujuk ke RSUD Gemolong. Dia mengalami tifus karena tenaganya terforsir dalam bertugas,” ucap Agus Salim.

Agus menjelaskan para pengawas TPS dan anggota KPPS tidak hanya terbebani secara fisik, tetapi juga psikis. Mereka khawatir pekerjaan tidak bisa selesai sehingga menjadi beban pikiran.

“Mereka sudah siaga di TPS mulai pukul 06.00 WIB dan ada yang baru bisa pulang pukul 03.00 WIB keesokan harinya. Bisa dibilang ini adalah pemilu yang paling melelahkan. Harapan kami, ke depan ada evaluasi supaya pemilu tidak banyak makan korban,” terang Agus Salim.

Ketua Bawaslu Sragen, Dwi Budhi Prasetyo, mengatakan total ada enam pengawas Pemilu 2019 yang sakit pada saat atau seusai bertugas. Wahyu Setyawan, petugas di TPS 3 Tegaldowo Gemolong dibawa ke RS setelah terkena paku saat membersihkan alat peraga kampanye (APK) di hari tenang.

Sementara rekannya, Widiatmoko, yang bertugas di TPS 6 Tegaldowo tertabrak sepeda motor saat membersihkan APK. “Ahmad Aminudin, petugas TPS 12 Blangu Kecamatan Gesi harus berobat ke dokter karena kecapaian setelah bertugas hingga pukul 04.30 WIB. Widodo, pengawas TPS 19 Desa Sambungmacan juga jatuh sakit dan harus berobat ke puskesmas karena masalah yang sama. Yang jelas, pemilu serentak seperti ini harus dievaluasi,” terang Budhi.