Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Caleg Golkar Sragen Sugimin

Nurhayati (Istimewa)
25 April 2019 17:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Bermula dari kabar meninggalnya seorang caleg DPRD Sragen dari Partai Golkar, Sugimin, di Wonogiri sehari menjelang pemungutan suara Pemilu 2019, pekan lalu, kasus ini berkembang menjadi kisah yang ruwet.

Motif uang, politik, dan asmara berbalut hubungan bisnis saling berkelindan membentuk jalinan cerita mirip kisah sinetron. Saat itu, Kamis (11/4/2019) dini hari, Sugimin pergi dari rumahnya di Masaran, Sragen, mengendarai mobil Isuzu Panther Touring.

Tak ada satu pun anggota keluarganya yang tahu ke mana Sugimin pergi. Nomor ponselnya pun sulit dihubungi sehingga membuat keluarganya cemas. Mereka berusaha mencari Sugimin termasuk melapor ke polisi.

Pencarian menemukan titik terang berupa sinyal handphone Sugimin di wilayah Sukoharjo. Saat itu Sugimin dikabarkan berada di RS dr. Oen Solo Baru Sukoharjo. Namun saat didatangi rumah sakit tersebut, Sugimin sudah tidak ada.

Setelah itu tak ada lagi kabar dari Sugimin sampai pada Selasa (16/4/2019) dini hari, keluarga mendapat kabar Sugimin meninggal di Wonogiri. Keluarga pun merasa janggal karena Sugimin tak punya kerabat di Wonogiri dan ia tidak punya urusan politik di Wonogiri. Keluarga meminta jenazah Sugimin diautopsi.

Cerita Fiktif

Sementara di Wonogiri diinformasikan Sugimin ditemukan dalam kondisi sakit di ruko dekat SMPN 1 Wonogiri. Sugimin ditemukan oleh Mugiono, warga setempat, yang kemudian membawa Sugimin ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Sugimin meninggal di RS tersebut.

Namun, cerita itu ternyata rekayasa belaka. Sejatinya, saat pergi dari rumahnya di Sragen pada Kamis dini hari itu Sugimin langsung menuju rumah seorang perempuan bernama Nurhayati Kustanti, seorang dosen dan calon doktor di wilayah Kelurahan Purwosari, Kecamatan Wonogiri.

Nurhayati sebenarnya adalah istri yang dinikahi Sugimin secara siri pada 2016 lalu meski keduanya sama-sama sudah berkeluarga. Mereka juga punya usaha konfeksi di Lingkungan Gunung Kukusan, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri. Suami Nurhayati, Nurwanto, dikabarkan tahu hal tersebut namun tak berbuat apa-apa.

Suatu saat, Sugimin meminta uang senilai Rp750 juta kepada Nurhayati dalam bentuk pecahan Rp50.000 dan dimasukkan dalam 15.000 amplop. Uang itu untuk keperluan pencalonannya kembali sebagai anggota DPRD Sragen.

Kirim Santet

Nurhayati kesulitan memenuhi permintaan Sugimin tersebut, namun Sugimin terus menekan Nurhayati agar segera memberikan uang itu. Sugimin bahkan mengancam akan menculik anak Nurhayati yang berusia delapan tahun.

Nurhayati yang kesal karena terus ditekan akhirnya timbul niat untuk membunuh Sugimin. Apalagi itu bukan kali pertama Sugimin meminta uang. Sebelumnya, Sugimin juga pernah meminta uang Rp10 juta kepada Nurhayati sambil marah-marah.

Didorong rasa tertekan itu, pada 6 April, Nurhayati mendatangi dukun untuk menyantet Sugimin. Namun santet itu sepertinya gagal karena sehari kemudian Sugimin datang. Saat itulah Nurhayati mendapat ide membunuh Sugimin menggunakan racun.

Pada 10 April, Nurhayati membeli 16 bungkus racun tikus di Kaloran, Giritirto, Wonogiri, secara bertahap. Kesempatan itu datang ketika Sugimin tiba di rumah Nurhayati pada Kamis (11/4/2019) dini hari dengan keluhan sakit diare.

Nurhayati kemudian memberi obat diare dalam bentuk kapsul yang bagian dalamnya sudah diberi racun tikus. Obat itu bekerja dan Sugimin merasa sakit perut. Oleh Nurhayati, Sugimin dibawa ke RS Marga Husada Wonogiri.

Setelah dua hari dirawat, Sugimin dibawa pulang ke rumah Nurhayati pada Sabtu (13/4/2019). Nurhayati bercerita kepada suaminya, Nurwanto, bahwa ia telah meracuni Sugimin.

Nurwanto menyarankan istrinya memulangkan Sugimin ke Sragen. Dia menyatakan tak ingin terlibat masalah sehingga tak mau turut campur urusan mereka.

Pada hari itu juga Nurhayati membawa Sugimin ke Sragen melalui Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, menggunakan mobil rental. Sesampainya di Bekonang, niat Nurhayati membunuh Sugimin kembali muncul.

Perjalanan ke Giriwoyo

Saat di mobil dia memberi Sugimin sebutir kapsul obat diare berisi racun tikus. Racun bereaksi cepat. Saat itu juga Nurhayati membawa Sugimin ke RS dr. Oen Solo Baru, Sukoharjo.

Sugimin dirawat di RS itu hingga Senin (15/4/2019). Setelah membaik, Nurhayati membawa Sugimin ke rumah saudaranya di Giriwoyo, Wonogiri, menggunakan taksi online malam harinya.

Dalam perjalanan, Nurhayati kembali memberi kapsul berisi racun kepada Sugimin. Kali itu dia memberi dua butir kapsul obat diare yang di dalamnya berisi racun tikus.

Kondisi Sugimin langsung parah. Sesampainya di rumah saudara Nurhayati, Sugimin sesak napas dan mulutnya mengeluarkan busa. Saudara Nurhayati lalu memintanya membawa Sugimin ke RSUD Wonogiri.

Saat itu taksi online yang sebelumnya ditumpangi Nurhayati dan Sugimin sudah pergi. Karena tak ada kendaraan, Nurhayati menghubungi bapaknya, Mugiono.

Nurhayati meminta Mugiono menjemput dan mengantarkannya ke RSUD. Mugiono lalu menghubungi Nurwanto. Nurwanto dan Mugiono menuju Giriwoyo menggunakan mobil Nurwanto.

Sesampainya di Giriwoyo, Nurhayati bergegas membawa Sugimin ke RSUD menggunakan mobil suaminya. Nurwanto dan Mugiono turut menyertai. Saat di mobil Sugimin terjatuh ke lantai mobil. Namun, Nurhayati membiarkannya.

Sesampainya di RSUD, Selasa (16/4/2019) pukul 00.30 WIB, ketiganya membawa Sugimin ke IGD. Saat itu lah Nurhayati meminta Mugiono membuat cerita bahwa Sugimin ditemukan sudah dalam kondisi sakit di utara SMPN 1 Wonogiri.

Lokasi itu dekat toko pakaian milik Mugiono. Cerita tersebut disampaikan kepada petugas IGD dan polisi sampai akhirnya diketahui bahwa cerita itu fiktif. Pada Selasa sore, polisi menangkap Nurhayati. Kini Nurhayati harus mengubur impiannya menjadi doktor karena hukuman penjara bertahun-tahun bahkan mungkin hukuman mati sudah menanti di hadapannya. Apalagi hasil laboratorium membuktikan ada kandungan pestisida dan racun tikus di tubuh Sugimin.