Astra Agro Goes to Campus Sambangi FP UNS

Wakil Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Joko Supriyono, memberikan kuliah umum dalam Astra Agro Goes to Campus di Aula Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis (25/4 - 2019) (Istimewa)
26 April 2019 00:20 WIB Haryono Wahyudianto Solo Share :

Solopos.com, SOLO— Salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, PT Astra Agro Lestari Tbk, menyambangi Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis (25/4/2019). Lewat event yang dikemas Astra Agro Goes to Campus, mereka bekerja sama dengan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian (FP) memberikan kuliah umum kepada mahasiswa UNS.

Hadir sebagai perwakilan Astra Agro dan memberikan kuliah umum adalah Wakil Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Joko Supriyono. Sebagai pembicara pendamping kuliah umum bertajuk Penyuluhan dan Kemitraan dalam Pembangunan Perkebunan Indonesia tersebut adalah staf pengajar Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (AK-Tekstil) Solo, Ahmad Darmawi. Hadir pula Dekan FP UNS, Bambang Pujiasmanto, dan Ketua Program Studi Penyiaran dan Komunikasi Pertanian, Agung Wibowo.

Bertempat di Aula FP UNS, Joko mengawali kuliah umum dengan pemutaran video soal industri kelapa sawit. Dalam pemaparannya, Joko mengatakan 35% kebutuhan minyak nabati dunia dipenuhi oleh sawit. Hal ini yang membuat sebagian besar produk makanan dan minuman tidak terlepas dari sawit.

Sawit menjadi komoditas strategis karena merupakan nomor satu penyumbang devisi negara non migas. Nilai ekspor sawit berkisar 16-21 juta US$ atau 66-67 %. Angka ini merupakan yang terbesar di antara semua komoditas perkebunan. Selain itu, di Indonesia sawit merupakan sumber lapangan kerja. Dengan penggunaan lahan hingga 12 Juta helktare (ha) dan nilai ekspor mencapai US$21 juta, sawit menyediakan lapangan pekerjaan untuk hampir enam juta pekerja dan mendukung kehidupan untuk 12 juta orang.  

Joko yang juga Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengatakan tantangan yang harus dijawab oleh industri sawit saat ini adalah produktivitas tanaman dan biaya produksi yang tinggi. Terdapat gap yield produksi rata-rata 47% terhadap potensi tanaman sawit di Indonesia selama 2008-2017. Biaya produksi Indonesia yang mencapai 34% lebih tinggi dari Malaysia. Peningkatan luas lahan per tahun sejak 2008 hingga 2017 berkisar 6% tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas tanaman. Peningkatan produktivitas hanya sekitar 3% per tahun.

Guna mengatasi itu serta dalam mengarungi era industri 4.0, industri pertanian harus menerapkan teknologi yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan peningkatan kualitas produk. “Era industrialisasi mengarah ke teknologi. Kalau tidak siap, kita tidak bisa bersaing, tidak efisien, dan akhirnya kalah,” ujar Joko.

Dia bercerita Indonesia dulu berjaya dengan rempah-rempah, kapas, kedelai, dan gula. Namun, industri itu mengalami defisit. Padahal kebutuhan masyarakat meningkat. Akibatnya pemerintah harus mengimpor gula karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Sawit, Indonesia produsen terbesar. Indonesia hanya konsumsi 30 persen dari produksi. Artinya kita surplus. Itu hebatnya sawit. Beda dengan kedelai kita impor 1,8 juta ton setahun hanya untuk tahu dan tempe karena kita nggak mampu bersaing jadinya impor,” ujarnya.

Dalam industri perkebunan utamanya sawit, penggunaan teknologi bisa dilakukan melalui genomic technology untuk mendapatkan varietas unggul. Selain itu, otomatisasi pada administrasi, saat panen, dan perawatan. Mekanisasi dalam perawatan dan panen, serta otomatisasi pabrik.

Pada sesi tanya jawab, Astra Agro membuka kesempatan bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk UNS. Kerja sama itu bisa berbagai bentuk seperti magang mahasiswa, kelas khusus, dan lain sebagainya. “Peluang dalam bidang riset. Kami punya divisi riset. Jadi kerja sama bentuknya macam-macam tergantung kebutuhannya,” kata Joko.