Banyak Petugas Penyelenggara Pemilu Meninggal dan Sakit, Ini Komentar Wali Kota Solo

Pelayat berdoa di samping peti jenazah Ketua PPK Tasikmadu, Sapto Nugroho, 59, di rumah duka, Rabu (24/4/2019). (Solopos - Sri Sumi Handayani)
26 April 2019 13:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengomentari ihwal banyaknya petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal atau jatuh sesuai menjalankan tugas.

Wali Kota yang akrab disapa Rudy itu pun meminta sistem Pemilu serentak seperti yang berlangsung pada 17 April lalu diperbaiki. Proses pemungutan, penghitungan, dan rekapitulasi yang berlangsung lama mengakibatkan 225 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia di seluruh Indonesia. 

Ratusan lainnya juga harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Jumlah korban itu didasarkan pada data yang masuk ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI per Kamis (25/4/2019) hingga pukul 18.00 WIB.

“Harus ada evaluasi. Setiap kegiatan apa pun harus dievaluasi. Apalagi ini negara besar. Jangan lagi serentak seperti tahun ini. Karena dampaknya bisa seperti ini,” kata dia, kepada wartawan, Kamis. 

Rudy mengatakan pemilu serentak bertujuan agar penyelenggaraan pemilihan presiden dan legislatif di semua tingkatan berjalan dalam satu waktu sehingga efektif dan efisien.

Namun setelah dilakukan, pemilu serentak memiliki sejumlah dampak. Rudy mengusulkan agar pemilihan presiden dan wakil presiden dibarengkan dengan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). 

Kemudian, pemilihan gubernur serentak dengan pemilihan anggota DPRD Propinsi. Sedangkan pemilihan bupati dan wali kota digelar bareng dengan pemilihan DPRD kabupaten/kota.

”Saya merasakan sendiri, saya keliling sampai malam itu ternyata masih penghitungan. Saya juga kasihan melihatnya,” kata dia. 

Saat berkeliling itulah, Rudy sempat ingin memberi bantuan makanan kepada seluruh petugas yang masih terjaga. Namun langkah itu urung dilakukan untuk menjaga netralitas. 

Dia takut jika niat baiknya disalahartikan sebagai bentuk mempengaruhi kinerja penyelenggara pemilu. ”Makanya kami mengirim tim kesehatan dari Dinas Kesehatan. Ya untuk itu, memastikan petugas semua dalam keadaan sehat," kata dia.