Kabar Duka: Salah Satu Tokoh Perintis UNS Solo Tutup Usia

Jenazah Soediro Satoto diberangkatkan ke Koripan, Segaran, Delanggu dari rumah duka di Jl. Ki Ageng Panjawi No. 119 RT 002/RW 003, Kwoso, Gergunung, Klaten Utara, Senin (29/4/2019) siang. (Solopos - Ponco Suseno)
29 April 2019 19:45 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Salah satu tokoh perintis Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. H. Soediro Satoto, meninggal dunia pada Minggu (28/4/2019) pukul 17.25 WIB. Soediro dimakamkan di permakaman wilayah Delanggu, Klaten, Senin (29/4/2019).

Kepergian Soediro meninggalkan duka di kalangan akademisi dan warga di Jl. Ki Ageng Panjawi No. 119 RT 002/RW 003, Kwoso, Gergunung, Klaten Utara, Klaten. Soediro Satoto meninggal karena sakit saat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten.

Sejumlah pelayat datang secara bergelombang ke rumah duka di Gergunung, Klaten. Selain memberikan penghormatan terakhir bagi guru besar tersebut, para pelayat juga mendoakan agar almarhum Soediro Satoto ditempatkan di surga-Nya. Semasa hidupnya hingga usia 83 tahun, Soediro menjadi panutan bagi banyak kalangan.

Sejumlah karangan bunga terpampang di depan rumah Soediro Satoto. Ucapan turut berduka cita itu mengalir dari keluarga besar UNS Solo, keluarga besar Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten, keuarga besar Hiswana Migas Surakarta, Paguyuban LPG 3 Kilogram, Alumni SMAN 3 Surakarta, dan yang lainnya.

Jenazah Soediro Satoto dimakamkan di Koripan, Segaran, Delanggu, pukul 13.00 WIB. Almarhum meninggalkan lima anak, yakni Nova Irnawati Rahayu-Sutopo, Kurnia Candra Devi Ahmad Dalhari, Hanum Tri Buddhy Saktiyawati-Agus Hendriyanto, Henry Umar Sena Surya Adi Brata, dan Guntur Agung Satosa Rahmat Eka Saputra-Novita Kusumaningrum.

Sebelum meninggal dunia, Soediro Satoto sakit stroke. “Almarhum sempat opname selama tiga hari. Semasa hidupnya, beliau orang yang sangat menyayangi seluruh anggota keluarga,” kata salah seorang ahli waris dari Soediro Satoto, Rohadi, 50, saat ditemui Solopos.com di rumah duka Jl. Ki Ageng Panjawi No. 119 Klaten Utara, Senin.

Soediro Satoto merupakan dosen yang mengajar sejak UNS Solo berdiri pada 1976. Soediro Satoto juga perintis UNS bersama Adipati Haryo Mataram, Wondo Atmo Janawi, dan Prof. Prakosa.

Soediro Satoto menempuh S3 di Universitas Indonesia (UI). Selain fokus di dunia sastra, Soediro Satoto juga aktif mengembangkan dunia seni, terutama teater. Soediro Satoto diketahui akrab dengan tokoh seni dan teater nasional, seperti Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan lainnya.

Nomorsatukan Pendidikan

Semasa hidupnya, Soediro Satoto pernah menggarap teater berjudul Pangeran Diponegoro. “Banyak mahasiswa S1, S2, dan S3 yang dibimbing Pak Soediro Satoto. Beliau juga menjadi pengamat kesenian juga. Setahu saya, beliau selalu menomorsatukan dunia pendidikan. Terhadap generasi penerus bangsa beliau berpesan agar selalu memperhatikan dunia pendidikan. Di bidang seni, beliau selalu memperjuangkan seni sesuai adat ketimuran,” kata salah seorang sahabat Soediro Satoto, Sutopo Mulyo Widodo.

Keluarga besar UNS dan Unwidha Klaten juga merasa kehilangan atas meninggalnya salah satu putra terbaik di bidang sastra dan seni itu. Semangat yang dipertunjukkan Soediro Satoto dalam mengajar di kampus patut diteladani juniornya.

“Saya dahulu juga menjadi salah satu mahasiswa Pak Soediro Satoto. Dalam satu tahun terakhir ini memang Pak Soediro sudah tidak bisa mucal [mengajar]. Sebelum itu masih mau mengajar,” kata perwakilan keluarga besar UNS, Riyadi Santosa.

Selain dihadiri para para pelayat dari kalangan akademisi, upacara permakaman Soediro juga dihadiri warga Gergunung dan sejumlah mantan mahasiswa yang pernah dididik Soediro Satoto. Di kalangan warga di Gergunung dan sekitarnya, Soediro Satoto dikenal sebagai seorang mentor yang aktif memotivasi generasi muda agar terus semangat dan mengedepankan dunia pendidikan.

“Saya mahasiswa yang pernah dididik Pak Soediro Satoto pada 1976. Semasa hidupnya, Pak Soediro Satoto merupakan dosen yang tak pernah ada jarak dengan mahasiswanya. Beliau selalu akrab dengan mahasiswanya. Semangatnya dalam mengajar juga sangat bagus. Prinsip egaliter dan semangat mengajar itulah yang masih dipegang Pak Soediro Satoto hingga akhir hayatnya,” kata salah satu mantan mahasiswa Soediro Satoto asal Klaten, Walidi, 63, yang kini menjadi wakil direktur di CV Gema Nusa Klaten.