Antisipasi Musim Kemarau, 290 Sukarelawan SAR Sragen Tanam 3.400 Bibit Pohon Keras

Ratusan sukarelawan SAR se-Kabupaten Sragen berkumpul bersama menanam 3.400 batang bibit pohon keras di tiga bukit di lahan Perum Perhutani, tepatnya di Ngepringan, Jenar, Sragen, Minggu (28/4/2019). (Istimewa - Sugeng Priyono)
30 April 2019 01:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 290 sukarelawan search and rescue (SAR) se-Kabupaten Sragen menanam 3.400 bibit pohon keras seperti mahoni, trembesi, dan randu, untuk mengantisipasi musim kemarau, Minggu (28/4/2019).

Penanaman pohon di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bertujuan menghijaukan tiga bukit milik Perum Perhutani yang gundul akibat pembalakan kayu liar pada masa reformasi 1998 lalu. Penghijauan juga berfungsi sebagai tangkapan air hujan agar Waduk Pungkruk di Desa Ngepringan, Jenar, Sragen bertahan.

Selama ini air waduk tidak pernah mengering sepanjang tahun sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mencukupi kebutuhan air bersih saat kemarau. Kepala Pelaksana BPBD Sragen, Sugeng Priyono, saat dihubungi Solopos.com, Minggu, menyampaikan penghijauan di tiga bukit juga untuk green belt atau sabuk hijau yang dapat menahan erosi tanah.

Penanaman dilakukan dengan melibatkan Perum Perhutani, pemerintah desa, TNI, Polri, dan 26 potensi SAR lain. Bibit pohon berasal dari bantuan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sebanyak 2.400 batang (pohon mahoni dan trembesi) serta bantuan dari sukarelawan SAR sebanyak 1.000 batang (pohon randu berkualitas super).

“Waduk seluas 20 hektare menjadi sumber air bersih satu-satunya di Ngepringan Jenar saat musim kemarau karena tidak pernah kering. Sumber airnya berasal dari sungai-sungai kecil dari hutan perhutani. Semantara ini waduk berfungsi sebagai irigasi bagi lahan pertanian padi dan palawija di saat musim penghujan. Waduk bisa dikembangkan sebagai objek wisata baru di utara Bengawan Solo,” ujar Sugeng.

Penghijauan menjadi target kegiatan BPBD dalam rangka mengantisipasi musim kemarau. Apabila penghijauan tidak dilakukan di wilayah tersebut, risikonya dalam 3-5 tahun sumber air di waduk mengering. Selama survei lokasi, Sugeng tak menemukan tanaman keras, hanya tanaman perkebunan sepertu tebu dan tanaman palawija seperti jagung yang tumpang sari di lahan Perum Perhutani.

“Gundulnya tiga bukit adalah dampak dari penjarahan kayu pada masa reformasi 1998 lalu. Perum Perhutani menyambut positif dan berterima kasih kepada sukarelawan SAR yang peduli lingkungan,” ujar dia.