Kebun Raya Indrokilo Boyolali Perlu Mencontoh Padova di Italia

Kios berbentuk buah dibangun di parkiran Kebun Raya Indrokilo Boyolali (KRIB) di Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali. (Istimewa - Pemkab Boyolali)
04 Mei 2019 07:00 WIB Iskandar Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berharap proyek Kebun Raya Indrokilo di Boyolali menjadi pekerjaan konservasi yang berkesinambungan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali meresmikan proyek yang berlokasi di Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Jumat (3/5/2019).

Kebun Raya Indrokilo perlu mencontoh kebun raya di dunia yang berusia 400 tahun seperti di Padova, Italia, dan Kebun Raya di Bogor yang berusia 202 tahun yang hingga saat ini masih terus berproses membangun taman tematik.

Jadi hal ini dinilai merupakan pekerjaan konservasi yang berkesinambungan.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, saat Workshop Perkebunrayaan di The Alana Hotel, Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Kamis (2/5/2019).

Hadir dalam workshop tersebut Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sarwono Kusumaatmadja; Bupati Boyolali Seno Samodro; dan pejabat Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Seno Samodro mengatakan Kebun Raya Indrokilo memiliki luas sekitar 12 hektare. Semula dia berpikir luas Indrokilo merupakan luas terkecil kebun raya di Indonesia. Namun ternyata bukan. Kebun binatang di Bali ada yang luasnya hanya lima hektare.

Enny tak mempermasalahkan luas lahan. Bagi LIPI meski kebun raya di Boyolali hanya seluas 12 hektare, dia berharap kebun raya tersebut dikelola dengan manajemen yang baik.

Untuk pengadaan flora, ujar Enny, tentu sudah ada ekoregion-nya. Untuk Indrokilo yang ada di dataran rendah di Jawa, yang unik tentu dikaitkan dengan budaya. Jadi semua kebun raya sudah ada keunikannya.

Day and Night

Seno mengatakan keberadaan kebun raya akan menjadi penting bagi Boyolali. Menurutnya proyek kebun raya memiliki visi-misi yang dahsyat karena untuk tinggalan anak cucu nanti.

Berbicara soal kebun raya berarti berbicara masalah lingkungan hidup, konservasi alam, air, pohon, dan oksigen. “Saya sangat serius menyukseskan kebun raya ini. Dengan dibantu LIPI jadilah kebun raya ini meski belum sempurna,” ujar Seno Samodro.

Menurut Seno pembangunan kebun raya di Boyolali ini baru tahap awal dan belum berakhir. “Janji saya nanti day and night. Sekarang ini baru day-nya, nanti kami bikin night-nya. Jika semuanya sudah selesai nanti masyarakat bisa mengunjunginya pada malam hari.”

Ditanya prioritas konservasi di Boyolali, Seno mengatakan pihaknya menginginkan tumbuhan langka. “Tapi enggak tahu nanti LIPI yang membidangi,” kata dia.

Enny menimpali pihaknya mencari tanaman langka di Jateng yang sulit ditemukan. Tanaman yang dulu diketahui para orang tua dan langka.

Keanekaragaman Hayati

Tanaman ini akan dicari di sekitar Jateng dikumpulkan untuk lahan di dataran rendah. Kalau untuk dataran tinggi sudah ada di Baturaden.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sarwono Kusumaatmadja, mengatakan Kebun Raya Indrokilo mempunyai fungsi strategis.

Kebun raya akan menjadi pusat bermacam-macam hal. “Orang bisa melakukan konservasi di sana, menjadi arena pembelajaran, penelitian bahkan wisata. Kalau diurus dengan baik akan menjadi sumber kebanggaan dari daerah,” kata dia.

Kendati kewenangan Kebun Raya Indrokilo ada di tangan Pemkab Boyolali, namun LIPI tetap berperan sebagai pembina. “Jadi nanti yang mengarahkan substansi adalah LIPI.”

Dia menjelaskan kebun raya ini bisa menjadi modal kabupaten untuk menjadi terkenal dan kemudian menjadi pusat rujukan bagi pembelajaran di bidang keanekaragaman hayati. “Manfaatnya luar biasa” papar dia.