Padusan Jelang Ramadan, Perputaran Uang di Umbul Wilayah Klaten Capai Puluhan Juta Rupiah

Pengunjung memenuhi kawasan Umbul Sigedang-Umbul Kapilaler, Dukuh Umbulsari, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Minggu (5/5/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
05 Mei 2019 21:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Perputaran uang di objek wisata umbul atau tempat pemandian umum di wilayah Klaten mencapai puluhan juta rupiah pada momentum padusan jelang Ramadan 2019.

Tradisi padusan menjelang Ramadan memang menjadi salah satu momentum pengelola objek wisata air untuk mendongkrak pendapatan. Jumlah pengunjung naik dua kali lipat hingga perputaran uang di kawasan wisata air bisa mencapai lebih dari Rp50 juta/hari pada tradisi padusan kali ini.

Salah satu objek wisata air di Klaten yang jumlah pengunjungnya membeludak yakni Umbul Pelem di Desa Wunut, Kecamatan Tulung. Objek wisata air yang dikelola BUM Desa Sumber Kamulyan, Desa Wunut, tersebut berada di tepi jalan raya Tegalgondo-Janti dan berdampingan dengan Umbul Manten, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo.

Selain kolam renang, di objek wisata itu terdapat hamparan taman cenil atau selada air. Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistya, mengatakan jumlah pengunjung pada momentum tradisi padusan, Minggu (5/5/2019), mencapai 2.000 orang.

Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dibanding hari libur akhir pekan dengan pengunjung 1.000-1.500 orang. Tiket masuk ke kawasan objek wisata tersebut Rp5.000/orang. Sementara tarif parkir mobil Rp5.000/unit dan sepeda motor Rp3.000/unit.

Soal perputaran uang di kawasan Umbul Pelem, Iwan memperkirakan lebih dari Rp50 juta. “Total uang yang berputar di tiket dan parkir Rp15 juta-Rp20 juta. Belum perputaran uang di warung-warung atau pedagang di sekitar kawasan umbul. Total nilai uang yang beredar bisa mencapai lebih dari Rp50 juta,” kata Iwan saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu.

Jumlah pengunjung yang melonjak juga terjadi di Umbul Tirtomulyono dan Tirtomulyani, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum. Jumlah pengunjung di dua objek wisata tersebut diperkirakan mencapai 3.000 orang pada Minggu ini.

Harga tiket saat momentum padusan kali ini dinaikkan menjadi Rp8.000/orang dibanding hari biasa Rp5.000/orang untuk Umbul Tirtomulyono. Sementara harga tiket untuk Umbul Tirtomulyani Rp4.000/orang atau naik dibanding harga tiket hari biasa Rp2.000/orang.

Kenaikan harga tiket itu seiring dengan penambahan fasilitas pentas musik dangdut di objek wisata air tersebut. Kenaikan jumlah pengunjung juga terjadi di Umbul Sigedang di Dukuh Umbulsari, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo. Jumlah pengunjung objek wisata yang dikelola Pokdarwis Wanatirta Pokja 6 Desa Ponggok tersebut meningkat mencapai 200 orang pada Minggu.

Sementara jumlah pengunjung pada libur akhir pekan biasa berkisar 100-150 orang. Kawasan tersebut menawarkan dua yakni Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler. Ketua Pokdarwis Wanatirta Pokja 6 Desa Ponggok, Teguh Kuat, mengatakan sebelumnya Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler hanya menjadi jujugan para pengunjung Umbul Ponggok.

Namun, sejak direnovasi pada 2018 lalu, kawasan objek wisata tersebut menjadi tujuan utama para pengunjung. Rata-rata pengunjung dari wilayah Solo. “Harga tiket Rp5.000/orang. Harga tiket ini tidak kami naikkan atau masih seperti hari biasa,” katanya.

Sementara itu, Pemkab Klaten menargetkan pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan Objek Mata Air Cokro (OMAC), Kecamatan Tulung, mencapai Rp70 juta pada momentum padusan tahun ini dengan jumlah pengunjung sekitar 40.000 orang dengan harga tiket masuk Rp15.000/orang pada dua hari momentum padusan, Sabtu-Minggu (4-5/5/2019).

Panggung pentas dangdut juga dihadirkan di objek wisata yang kini dikelola Pemkab Klaten tersebut untuk menambah daya tarik pengunjung. Selain itu, Pemkab memusatkan perayaan tradisi padusan di OMAC dengan menggelar proses siraman kepada perwakilan Mas dan Mbak Klaten serta bagi-bagi duit kepada pengunjung OMAC yang berdesakan di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Pantoro, mengatakan perayaan tradisi padusan rutin digelar di OMAC saban tahun ketika menjelang Ramadan. Selain untuk memfasilitasi warga menyucikan diri memasuki Ramadan, pemusatan acara di OMAC juga dimaksudkan promosi objek wisata tersebut.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan Klaten menjadi surganya wisata air. Ia berharap momentum padusan bisa dimaksimalkan para pengelola untuk mendongkrak pendapatan. Terkait pengembangan OMAC, Mulyani menjelaskan sudah dimulai dan perbaikan bakal dilakukan bertahap.

“Harapan saya momentum padusan ini bisa memviralkan OMAC biar lebih dikenal ke masyarakat luas,” katanya.