Dulu Gratis, Kini Masuk 3 Klaster Museum Sangiran Sragen Harus Bayar Rp8.000

Salah satu diorama di Museum Sangiran Sragen. (Solopos - Dok)
08 Mei 2019 14:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tiga klaster Museum Purbakala Sangiran, yakni Ngebung, Bukuran, dan Manyarejo, Sragen, yang sebelumnya menggratiskan tiket masuk, mulai April lalu sudah menerapkan tiket masuk berbayar. Tarif tiket masuk itu yakni Rp8.000 per orang.

Kebijakan ini diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen berdasar perda retribusi dengan tujuan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Bidang Destinasi Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora), Muhtar Ahmadi, mengatakan selama ini tiga klaster museum itu seperti tertidur karena minimnya jumlah wisatawan yang datang ke lokasi itu.

Sejak dibangun, Pemkab Sragen tidak pernah menarget PAD dari tiga klaster museum tersebut. Sejak April lalu, untuk kali pertama pengunjung tiga klaster museum itu diwajibkan membayar tiket seharga Rp8.000/orang.

“Harga tiket masuk tiga klaster museum itu sama dengan harga tiket masuk ke Museum Purbakala Sangiran Klaster Krikilan. Selama ini Klaster Krikilan memang menjadi penopang PAD Sragen [dari sektor pariwisata]. Dari total target PAD Rp1,8 miliar, kurang lebih Rp1,2 miliar berasal dari Klaster Krikilan,” ucap Muhtar saat ditemui Solopos.com di Kalijambe, Sabtu (4/5/2019).

Muhtar menjelaskan target PAD Rp1,8 miliar itu ditetapkan sebelum tiga klaster museum tersebut ditarik restribusi. Oleh sebab itu, target PAD tersebut akan direvisi pada pembahasan APBD Perubahan 2019.

Dari retribusi tiga klaster museum itu, Muhtar belum bisa memastikan berapa PAD yang akan diperoleh Pemkab Sragen. “Kalau di Klaster Krikilan ada bagi hasil antara Pemkab Sragen, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat. Sesuai MoU [memorandum of understanding] yang ditekan ketiga lembaga itu, Pemkab Sragen mendapat 50% dari restribusi Klaster Krikilan, sementara pemerintah provinsi dan pusat sama-sama mendapat 25%. Kalau untuk retribusi tiga klaster museum itu, kami belum tahu bagaimana nanti,” terang Muhtar.