Ricuh Konvoi Massa PSHT, Kasatreskrim Polres Wonogiri Masih Koma

Kerabat Kasatreskrim Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani terus berdatangan ke ruang ICU RS dr. Oen Solo Baru, Jumat (10/5/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
10 Mei 2019 17:10 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Lebih dari 24 jam Kasatreskrim Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani dirawat di ruang ICU Rumah Sakit (RS) dr. Oen Solo Baru, Sukoharjo.

Namun, mantan Kapolsek Pasar Kliwon Solo yang menjadi korban pengeroyokan saat menghalau konvoi massa Persaudaraan Setia Hari Teratai (PSHT) di Sidoharjo, Wonogiri, Rabu (8/5/2019) malam, belum juga sadarkan diri.

Informasi yang diperoleh Solopos.com, Jumat (10/5/2019), AKP Aditia masih koma karena luka berat di kepala. "Kondisinya masih belum sadarkan diri. Masih seperti yang kemarin," kata istri AKP Aditia, Dewi, saat berbincang dengan Solopos.com di RS dr. Oen Solo Baru, Jumat.

Tindakan medis berupa operasi telah dilakukan untuk mengatasi pendarahan otak yang mengakibatkan AKP Aditia koma dan tak sadarkan diri hingga saat ini. Operasi tersebut dilakukan pada Kamis (9/5/2019).

Wakapolres Wonogiri Kompol Adi Nugroho yang ditemui di RS dr. Oen belum bersedia berkomentar banyak mengenai kondisi Aditia. Kompol Adi Nugroho baru saja pindah tugas ke Wonogiri pada Jumat ini.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, teman seprofesi Aditia terus berdatangan menjenguk di ruang ICU. Sejumlah aparat kepolisian berjaga di sekitar ruang ICU.

AKP Aditia dikeroyok sekelompok orang saat berupaya menghalau massa anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) supaya tidak bentrok dengan Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (SH Winongo) di kawasan Sudimoro, Sidoharjo, Wonogiri, Rabu malam hingga Kamis dini hari.

Saat kejadian, Aditia mengenakan pakaian sipil dan terpisah dari rekan-rekannya. Sementara itu, selain mengakibatkan Aditia terluka, konvoi massa perguruan silat itu juga mengakibatkan lima rumah di Ngadirojo, Wonogiri, yang dilewati konvoi rusak. Sejumlah warga Ngadirojo juga dipukuli.