Eco-JPO Solo Diresmikan: Lebih Dari Sekadar Jembatan Penyeberangan

Ornamen tokoh wayang Bimasena terlihat sudah terpasang pada proyek pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)
11 Mei 2019 07:00 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Eco-JPO yang merupakan jembatan penyeberangan orang berkonsep ramah lingkungan pertama di Solo diresmikan, Jumat (10/5/2019) sore. Jembatan yang berada di depan RSUD dr. Moewardi, Jebres, Solo, itu sekarang sudah bisa digunakan oleh masyarakat.

Peresmian dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan Pusjatan Bandung Kementerian PUPR. Peresmian itu sekaligus pemberian nama jembatan itu menjadi Eco-JPO Gladhag Panti Husada Solo.

Beberapa tamu undangan seperti Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo, pejabat  Dinas PUPR Solo, serta beberapa OPD lainnya terlihat menghadiri soft launching tersebut. Selain itu, beberapa karyawan rumah sakit RSUD dr. Moewardi juga mengikuti acara peresmian. 

Mereka antusias menjajal jembatan penyeberangan berkonsep ramah lingkungan tersebut untuk kali pertama. Pembangunan eco-JPO Gladhag Panti Husada Solo ditujukan sebagai jembatan penyeberangan yang memiliki berbagai fungsi. 

Selain untuk menyeberang, jembatan penyeberangan tersebut juga difungsikan sebagai tempat rekreasi dan objek wisata untuk berfoto. Selain itu juga untuk memberikan akses terhadap kaum difabel agar juga bisa merasakan fasilitas yang sama dengan warga umum lainnya dengan memberikan akses difabel.

Pengalaman Solopos.com menjajal Eco-JPO Gladhag Panti Husada Solo, beberapa spot tampak bagus untuk swafoto. Selain itu, terdapat taman indah yang pastinya sangat menarik untuk foto-foto di sore hari karena berlatar belakang sunset atau matahari terbenam. 

Lokasi tempat duduk juga nyaman karena dikelilingi taman yang membuat mata menjadi segar. Terkait penggunaan nama Gladhag Panti Husada Solo, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo diambil dari bahasa Jawa. Kata Gladhag memiliki arti jembatan sedangkan Panti Husada adalah tempat keselamatan. 

Namun, nama tersebut diambil bukan karena lokasi yang berdekatan dengan rumah sakit. Rudy, sapaan akrabnya mengatakan nama tersebut diambil sebagai filosofi bahwa jembatan tersebut digunakan masyarakat agar menjadi fasilitas yang dapat menjadi tempat keselamatan saat menyeberang.

“Nama Gladhag Panti Husada bukan karena ini lokasinya berada di depan rumah sakit. Tapi karena diambil dari filosofi fungsi jembatan ini. Jembatan ini memiliki harapan agar menjadi tempat yang dapat memberikan keselamatan bagi penggunanya. Itu filosofi kenapa Eco-JPO Solo diberi nama Gladhag Panti Husada,” ujar Rudy ketika memberikan sambutan.

Setelah diresmikan oleh Wali Kota, para tamu undangan langsung datang meninjau Eco-JPO Gladhag Panti Husada Solo. Tak sedikit yang terkesima dengan layout yang instagramable. Para tamu langsung mengabadikan momen tersebut dengan melakukan foto bersama.

Bangunan setinggi 6 meter dari tanah hingga lantai JPO itu memiliki berbagai fasilitas pendukung untuk membantu para pejalan kaki di eco-JPO. Salah satunya adanya port charger yang memberikan solusi para pengunjung untuk mengisi baterai handphone mereka ketika kondisi darurat. 

Selain itu, Eco-JPO juga difasilitasi beberapa kamera CCTV untuk memantau aktivitas di ruang utama JPO. Rudy, saat menjajal eco-JPO mengharapkan nantinya jembatan tersebut dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh seluruh warga Solo. 

Dia mengatakan eco-JPO merupakan simbol fasilitas publik antidiskriminasi yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat Solo.

“Fasilitas ini ramah dan antidiskriminasi. Fasilitas ini dapat membantu para difabel untuk mendapatkan akses sehingga tidak akan ada lagi keluhan difabel yang bingung harus lewat mana kalau naik jembatan penyeberangan. Semoga saja liftnya segera dipasang,” bebernya.

Kepala Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Pusjatan Balitbang Kementerian Kementerian PUPR, Deded P. Sjamsudin, mengatakan Eco-JPO Gladhag Panti Husada Solo memiliki spesifikasi total panjang bentang 29 meter dengan bentang utama 18 meter dengan lebar 10 meter, clearance 5,1 meter. 

Dibangun dengan fondasi bored pile diameter 40 sentimeter dengan kedalaman 7 meter. Selain itu, terdapat rangka baja untuk ramp sepanjang 60 meter dengan kelandaian 6 persen.

“Untuk suplai pencahayaan kami juga mengadopsi tenaga surya dengan menggunakan solar cell, charger station, taman, tempat duduk dan dilengkapi dengan ornamen yang artistik. Semoga jembatan ini juga bisa mengakomodasi akses para difabel dengan adanya lift, tapi lift belum terpasang. Semoga segera dipasang,” jelasnya.