Begini Kisah di Balik Masjid Tanpa Tembok di Karanganom Klaten

Bangunan Masjid Joglo Baitul Ma'mur berdiri di tepi jalan raya Penggung-Jatinom, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Klaten. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso).
11 Mei 2019 02:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Orang-orang tiduran diantara tiang penyangga bangunan Masjid Joglo Baitul Ma’mur, Dukuh Tegalsari, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Klaten seusai menunaikan Salat Zuhur berjemaah. Sejuknya angin yang berembus dari berbagai sisi masjid ditambah lantai keramik masjid yang adem kontras dengan suasana di luar masjid yang panas oleh teriknya matahari, Kamis (9/5/2019) siang.

Masjid Joglo Baitul Ma’mur berada di tepi jalan raya Penggung-Jatinom berbatasan dengan areal persawahan. Arsitektur masjid tersebut berbeda dibanding masjid pada umumnya. Tak terlihat kubah di atap masjid. Bangunan berupa joglo beratap genting yang mayoritas sisinya terbuka alias tanpa tembok. Sisi barat menjadi satu-satunya sisi bangunan yang tertutup gebyok serta sekat untuk mimbar dan ruang imam.

Tiang penyangga menjadi penopang bangunan yang mayoritas berbahan kayu jati itu. Lampu gantung terpasang di dalam masjid menambah kesan klasik. Kentongan dan bedug tak sekadar menjadi penghias lantaran ditabuh pengurus masjid sebelum azan dikumandangkan.

Masjid itu didirikan seorang warga bernama Karyawan Hari Susetyo, 60, pensiunan pegawai PT. Taspen yang kini menetap di Dukuh/Desa Kunden. Hari sudah mewakafkan tanah beserta bangunan masjid tersebut untuk kepentingan umum.

Ditemui Solopos.com di rumahnya, Hari menceritakan pada 2006 lalu ia membeli tanah di tepi jalan raya Penggung-Jatinom. Sejak awal, ia sudah berniat membeli tanah untuk didirkan sebuah masjid. “Tujuan saya mendirikan masjid simpel. Memfasilitasi para musafir. Yang saya tahu dari Jatinom sampai Penggung itu tidak ada masjid di pinggir jalan yang terbuka,” katanya.

Pada Juli 2015 atau selang lima bulan setelah ia pensiun, Hari mulai merealisasikan niatannya membangun masjid dengan konsep dan biaya sendiri. Pilihannya dengan konsep bangunan adat Jawa lantaran sesuai dengan asal usulnya yang merupakan orang Jawa serta tak ada petunjuk dari manapun soal keharusan bentuk masjid.

Bangunan Masjid Joglo didirikan Hari di tanah seluas 1.030 meter persegi. Selama empat bulan proses pembangunan berjalan. Untuk membangun masjid berbentuk joglo, Hari mengeluarkan biaya sekitar Rp600 juta.

Hari mengatakan ada filosofi dari berbagai sisi bangunan masjid tersebut selain bentuknya yang unit. Ukuran bangunan 17 meter x 17 meter serta jumlah tiang lampu yang mengelilingi pagar masjid berjumlah 17 unit memiliki filosofi tersendiri. Angka 17 disesuaikan dengan jumlah total rakaat salat wajib dalam satu hari.

Selain angka 17, Hari memiliki filosofi tersendiri pada jumlah kran wudu masjid. Masing-masing tempat wudu putra dan putri terdapat kran berjumlah enam melambangkan jumlah rukun enam. “Nama masjid ini juga bukan sekadar karena bentuknya joglo. Sebenarnya joglo yang dimaksudkan itu aja gela [jangan kecewa]. Jadi untuk mengingatkan semua agar melaksanakan salat dengan tekun,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Cabang PT Taspen Surakarta itu.

Ia juga memiliki filosofi tersendiri soal konsep bangunan berupa joglo yang terbuka. “Konsep joglo yang terbuka itu filosofinya masjid terbuka untuk siapa saja. Masjid bukan miliki aliran tertentu. Sepanjang masih Islam mereka berhak salat di tempat tersebut,” katanya.

Hari memiliki pesan khusus kepada pengurus masjid untuk mempertahankan bentuk masjid tersebut tanpa menambahi bangunan lainnya agar keindahan Masjid Joglo serta suasananya yang sejuk tetap bisa dinikmati. “Karena masjid ini menjadi masjid musafir, saya harap pengurus bisa menjaga kerapian, kebersihan, dan ketertiban masjid,” urai dia.

Salah satu pengurus masjid, Suyudi, 42, mengatakan Masjid Joglo Baitul Ma’mur mulai difungsikan sebagai masjid ketika kali pertama digunakan untuk Salat Jumat dua tahun silam. Soal kegiatan masjid, Suyudi menjelaskan ada beragam kegiatan. Seperti Ramadan kali ini ada kegiatan rutin penyediaan menu buka puasa yang disiapkan pengurus masjid. Pada Ramadan kali ini, panitia sudah berkomitmen menerapkan antisampah plastik dalam berbagai penyajian menu berbuka.

“Wadah bisa menggunakan daun atau bahan selain plastik. Sementara, tempat minum menggunakan gelas kaca. konsep tanpa plastik ini memang dicanangkan mulai Ramadan kali ini,” katanya.