Beribadah di Kemegahan Masjid Kotak Manahan Solo, Bagaimana Rasanya?

Masjid Siti Aisyah yang dikenal sebagai Masjid Kotak di Jl. Menteri Supeno, Manahan, Banjarsari, Solo. (Solopos - M. Ferri Setiawan)
12 Mei 2019 23:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Udara dingin menyelimuti seluruh bagian Masjid Siti Aisyah yang juga dikenal sebagai Masjid Kotak di Jl. Menteri Supeno, Manahan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Suasana mewah layaknya hotel bintang lima terlihat jelas di masjid berbentuk kubus itu.

Para jemaah layaknya tamu hotel mewah ketika berada di dalam rumah Allah itu. Apabila dicermati, penamaan Masjid Kotak memang identik dengan bentuk masjid tersebut. Masyarakat mengambil cara termudah untuk mengingat yakni Masjid Kotak.

Seluruh bangunan ditutupi batu marmer yang menggambarkan kesan mewah. Tak banyak hiasan di dinding dalam masjid, hanya beberapa pahatan yang bertuliskan lafal Allah dan Muhammad.

Meskipun udara di dalam masjid terasa dingin, tak tampak pendingin ruangan. Bagian dalam masjid hanya tampak batu marmer berwarna cokelat yang menghiasi hingga ke tembok masjid. Saat hendak menunaikan salat, jamaah dapat menuju ke bagian basement di sebelah barat masjid untuk mengambil wudu.

Karpet masjid berwarna merah layaknya gedung bioskop di mal sehingga ketika para jamaah bersujud terasa nyaman pun dengan jamaah yang hendak membaca Alquran menjadi betah duduk bersila. Masjid dua lantai itu dapat menampung sekitar 500 orang yang menunaikan salat.

Ramadan ini menjadi Ramadan pertama bagi masjid yang diresmikan awal tahun 2019 tersebut. Masjid yang dikelola Yayasan Siti Aisyah itu tidak pernah sepi dari jamaah selama 24 jam.

Salat Tarawih menjadi lebih spesial di masjid yang selalu ramai ini. Imam Salat Tarawih merupakan qori dari Ammar TV yang memimpin salat dengan bacaan Alquran yang merdu sehingga membuat salat para jamaah menjadi khusyuk.

Selama Ramadan, lebih dari 300 porsi makanan dihidangkan untuk para jamaah berbuka puasa. Imam Rawatib Masjid Siti Aisyah, Ustaz Abdul Aziz Maarif, yang juga pengurus Masjid Kotak, saat ditemui Solopos.com, pekan lalu, mengatakan desain Masjid Kotak terinspirasi salah satu masjid di Timur Tengah yang berbentuk kotak.

Masjid Kotak menyambut bulan suci ini dengan meriah. Panggung di sebelah selatan masjid digunakan untuk konser kajian musisi islami. “Sebelum, saat, dan sesudah Ramadan masjid ini memiliki berbagai kegiatan islami. Kajian menjelang buka puasa ada yang di dalam masjid yakni kajian mengenai kitab namun ada kajian meriah yakni kajian konser atau ngaji budaya yang diisi seniman hijrah Solo,” ujarnya.

Meskipun terkesan mewah dan modern, kajian-kajian yang digelar Masjid Kotak justru seputar budaya Jawa yang kini mulai ditinggalkan orang-orang. Tembang Macapat yakni tembang-tembang Jawa yang memiliki pakem tertentu menjadi awal untuk menambah pengetahuan Islami.

Dari tembang Maskumambang hingga Pocung, tembang macapat memiliki filosofi kehidupan yang berkaitan dengan Alquran. “Kami ingin mengingatkan kembali tembang macapat yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari dalam kandungan hingga dipocong. Macapat akan dibedah dengan seni pertunjukan. Dalam sehari akan ada empat kali pertunjukan tembang macapat sore dan malam hari,” ujarnya.

Ustaz yang juga pimpinan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Al Rasyid, Kabupaten Sukoharjo, itu mengatakan dalam tembang macapat terdapat pesan yang merupakan pelajaran hidup yang sangat penting. Harapannya, pesan tembang macapat dapat menyadarkan masyarakat tembang atau lagu yang merupakan budaya Jawa itu mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah.

Meskipun Ramadan pertama Masjid Kotak sangat meriah dengan berbagai kegiatan setiap harinya, ia meyakini acara itu jauh dapat lebih maksimal pada Ramadan berikutnya. Hal itu dikarenakan seluruh pengelolaannya saat ini sedang mencari ritme atau pola untuk semakin memakmurkan masjid.

Persoalan parkir saat ini masih menjadi kendala masjid itu. Antusiasme para jamaah ketika mengetahui ustaz-ustaz yang mengisi acara masjid membuat parkir kendaraan meluber ke pinggir jalan hingga ke dalam permukiman warga.

Ia berharap Stadion Manahan di sebelah selatan masjid dapat diberikan akses khusus untuk parkir kendaraan jamaah masjid.