Gemuruh dan Getaran Tuntun Ari Temukan 2 Penambang Tertimbun Longsor di Boyolali

Warga mengusung keranda jenazah Sutono, 30, ke permakaman Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Sabtu (11/5/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
12 Mei 2019 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Tebing di lokasi penambangan pasir Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo. Boyolali, ambruk dan menimpa dua warga setempat, Trianto, 36, dan Sutono, 30, hingga meninggal dunia, Sabtu (11/5/2019).

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga kedua korban. Trianto meninggalkan istri dan tiga orang anak, sedangkan Sutono meninggalkan istri dan seorang bayi.

“Anaknya Trianto ada yang di bekerja Jepang dan sepertinya tidak mungkin pulang menemui ayahnya untuk terakhir kalinya,” ujar Sutrisno, 41, adik ipar Trianto di dekat rumah duka, Sabtu.

Sementara bagi tetangga, kepergian Trianto dan Sutono juga merupakan kehilangan besar karena keduanya tinggal di dukuh yang sama. Mulai saat ini mereka sudah tidak akan lagi berada di tengah-tengah mereka.

Kedua jenazah kini sudah dimakamkan di permakaman umum setempat secara bergantian. Sutono dimakamkan terlebih dahulu, sedangkan Trianto menyusul kemudian.

Terungkapnya peristiwa nahas ini tidak lepas dari peran Muh. Arianto, 47, warga yang pertama mengetahui tebing itu ambruk. Boleh jadi, jika Muh. Arianto ini tidak ada di rumah, kedua jenazah baru ditemukan sore hari, saat keluarga mencari ke lokasi karena mereka tak kunjung pulang.

Siang itu, laki-laki yang akrab disapa Ari ini sedang memperbaiki instalasi listrik di rumahnya, tak jauh dari lokasi tambang. Hingga suara azan Duhur dari masjid di dekat rumahnya berkumandang, Ari masih berusaha menuntaskan pekerjaannya.

Di tengah-tengah kumandang suara azan itu, Ari mendengar suara gemuruh yang hampir bersamaan dengan getaran yang cukup besar. Sejenak dia merasa sangat kaget dan bertanya-tanya, namun setelahnya dia langsung terpikir asal suara gemuruh dan getaran itu dari lahan bekas tambang galian C.

Di sana ada Trianto dan Sutono yang setiap hari menambang secara manual atau tradisional. Saat megumpulkan pasir, keduanya juga membuat lubang di tebing hingga menyerupai goa. Cara ini sebenarnya berbahaya karena membuat tebing rawan runtuh dan keduanya sudah pernah diingatkan.

Bubu-buru Ari berlari menuju lokasi tambang. Sesampai di sana dia mendapati sebagian tebing telah runtuh dan diperkirakan keduanya tertimbun. Ari pun sadar dirinya sendirian tak mampu menyingkirkan material reruntuhan tebing.

Ari lalu berlari lagi mencari bantuan kepada warga lain. Dengan cepat, puluhan warga yang sedang berada di rumah bergegas menuju ke lokasi untuk melakukan penggalian. Menggunakan tangan dan peralatan sederhana seperti cangkul dan sekop, warga terus menggali reruntuhan hingga Trianto dan Sutono ditemukan.

Keduanya ditemukan di dalam posisi masing-masing tertelungkup dan telentang. Namun, keduanya sudah meninggal dunia.

“Banyak sekali yang ikut ke sini membantu menggali sehingga mereka cepat ditemukan meskipun sudah meninggal dunia,” ujarnya Ari saat ditemui di lokasi kejadian.

Sementara itu, Agus Aryanto, 40, tetangga yang ikut dalam penggalian korban mengatakan setelah ditemukan jenazah langsung dibawa ke rumah masing-masiing untuk disucikan. “Langsung dibawa pulang ke rumah masing-masing dan dimakamkan hari ini juga,” ujarnya.