Perlintasan KA Jetak Sragen Sering Makan Korban

Spanduk dan poster berisi imbauan bagi pengguna jalan untuk berhati-hati dipasang di perlintasan KA tanpa palang di Dusun Bedowo, Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Senin (13/5 - 2019). (Moh. Khodiq Duhri)
15 Mei 2019 06:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Pemerintah Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, akan menyiapkan tenaga khusus untuk menjaga perlintasan kereta api (KA) tanpa palang menyusul beberapa kecelakaan kereta yang mengibatkan warga luka hingga meninggal dunia.

Penerapan lintasan rel ganda atau double track mulai Stasiun Palur di Jaten, Karanganyar, hingga Stasiun Kedungbanteng di Gondang, Sragen, mulai awal Maret, dinilai rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas (lakalantas), khususnya di perlintasan KA tanpa palang.

Berdasarkan catatan Solopos.com, total terdapat 53 perlintasan KA di Sragen yang terbagi di dua jalur yakni Solo-Sragen dan Solo-Sumberlawang. Sebanyak 36 perlintasan KA di antaranya tidak berpalang pintu. Sebagian dari perlintasan KA tanpa palang tersebut merupakan jalur tikus yang belum beraspal atau berlapis beton.

Kepala Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Siswanto, mengatakan terdapat dua perlintasan KA tanpa palang di wilayahnya, yakni di Dusun Bedowo dan Dusun Kaponan. Selama ini kerap terjadi lakalantas yang melibatkan kereta api (KA) dengan kendaraan warga sekitar di dua perlintasan KA tanpa palang tersebut.

Tidak jarang dari kasus kecelakaan itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Dia menilai diberlakukannya lintasan rel ganda otomatis menambah tingkat kerawanan lakalantas di dua pelintasan KA tanpa palang.

“Sejak rel ganda diberlakukan, otomatis jumlah kereta yang lewat meningkat. Kadang perhatian pengguna jalan itu hanya terfokus pada satu kereta. Mereka tidak memerhatikan ada kereta lain yang juga melaju dari arah berlawanan. Hal ini tentu sangat membahayakan bagi pengguna jalan,” ucap Siswanto saat ditemui di kantornya, Senin (13/5/2019).

Siswanto sudah menyampaikan masalah itu kepada perwakilan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang datang meninjau perlintasan KA tanpa palang di wilayahnya, beberapa waktu lalu. Dia mengusulkan dua perlintasan KA itu diberi palang dan penjaga demi menanggulangi terjadinya lakalantas.

Siswanto juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen. Rencananya, Dishub memasang rambu-rambu lalu lintas di lokasi.

“Sebelum ada solusi, saya berencana menyiapkan petugas untuk berjaga di dua perlintasan KA tanpa palang itu. Ada enam petugas yang kami siapkan, mereka akan terbagi dalam tiga sif. Selama ini, dua perlintasan KA tanpa palang itu hanya dijaga pada H-7 hingga H+7 Lebaran. Nanti, saya berharap bisa dijaga setiap hari. Honor petugas jaga sedang kami usulkan ke Pemkab Sragen,” terang Siswanto.

Hal senada disampaikan Kapolsek Sidoharjo, Iptu Zainal Arifin. Dia juga menilai penerapan rel ganda menambah kerawanan lalu lintas di perlintasan KA tanpa palang. Menurutnya, beberapa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan KA di wilayah Sidoharjo dipicu kurangnya kehati-hatian pengguna jalan saat melintasi rel ganda. “Perhatian pengguna jalan terfokus di satu kereta. Mereka tidak sadar ada kereta lain yang juga melintas dari arah berlawanan,” papar dia.

Sementara itu, Kabid Lalu Lintas, Dishub Sragen, David Hendrata, mengatakan penambahan palang pintu pada perlintasan sebidang tidak sejalan dengan program dari Kemenhub dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pasalnya, dua lembaga itu sudah gencar menyosialisasikan pengurangan perlintasan sebidang dengan memperbanyak jumlah overpass atau underpass.

“Sebagai solusi sementara, kami berencana menambah rambu peringatan. Wujudnya seperti apa, nanti melihat situasi di lapangan. Sekarang baru tahap survei lapangan,” terang David.