Caleg Petahana di Boyolali Ini Hanya Peroleh 70 Suara, Kok Bisa?

Ilustrasi caleg. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
15 Mei 2019 23:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Status calon anggota legislatif (caleg) petahana tak memberikan jaminan bakal mendulang suara maksimal dalam pemilihan umum.

Di Soloraya ada sejumlah caleg petahana yang hanya meraup puluhan hingga ratusan suara dalam Pemilu 2019.

Di Boyolali sedikitnya ada dua caleg petahana yang memperoleh sangat minim, tak lebih dari 1.000 suara. Mereka adalah Esta Ady Atmoko asal Partai Golkar dan Santoso Budi Raharjo asal Partai Demokrat.

Esta atau yang akrab disapa Tata, bahkan hanya memperoleh 70 suara pada Pemilu Legislatif 2019. Angka ini turun drastis dibandingkan perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2014. Saat itu dia memperoleh 2.600 suara.

Menurut Tata, perolehan suara yang buruk ini sudah dia prediksi jauh-jauh hari sebelumnya, lantaran dia sendiri memang tidak bekerja untuk pemenangannya.

“Terus terang saya tidak “nyambut gawe” [kerja keras untuk pemenangan]. Menurut hitung-hitungan saya, di daerah pemilihan [dapil] saya [dapil 1, Ampel, Boyolali, Teras, Mojosongo] Golkar hanya bisa dapat 1 kursi. Di sana ada Pak Fuadi [Ketua DPD Golkar Boyolali sekaligus incumbent]. Untuk memperoleh suara lebih dari Pak Fuadi sepertinya sangat sulit,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com, Senin (13/5/2019).

Prediksi ini juga diperkuat dengan pergerakan PDIP yang dinilainya sangat kuat sehingga lebih sulit memperoleh suara. “Saya dan teman teman incumbent yang lain [yang saat ini gagal lolos] sudah yakin tahun ini tidak berpihak kepada kami. Kalau dipaksakan, kami bisa kedodoran,” imbuhnya.

Lalu ke mana suara sebanyak 2.600 yang dia pelihara pada Pemilu Legislatif 2014? “Kami persilakan untuk menyalurkan suara mereka ke caleg yang mereka mau. Tim sukses juga kami kumpulkan dan kami ceritakan kondisinya, lalu mereka ada yang bergabung ke tim sukses caleg lain dari partai lain,” kata dia.

Lebih jauh ke belakang, pergerakan anggota DPRD Boyolali saat ini juga sudah sangat terbatas. Mereka tidak mampu lagi menjadi sandaran usulan masyarakat konstituen saat dana aspirasi senilai Rp100juta-Rp200 juta sudah dihapus.

Aspirasi

Sedangkan dana reses senilai Rp36 juta yang diberikan 3 kali setahun kepada anggota DPRD untuk menemui konstituen hanya sebagai sarana mendengar aspirasi.

“Uang reses Rp36 juta kalau untuk mengumpulkan orang, untuk biaya makan minum dan nanggap hiburan saja sudah habis. Kami hanya bisa mendengar aspirasi tapi tidak bisa mewujudkan aspirasi,” ujarnya.

Hal serupa dialami Santoso Budi Raharjo, yang pada Pileg 2014 memperoleh sekitar 3.574 suara, pada Pileg 2019 hanya memperoleh 747 suara.

Kekalahannya sudah ia perkirakan. Berkaca dari pengamatan pergerakan PDIP yang begitu kuat, dia sudah pesimistis akan duduk lagi di kursi DPRD Boyolali untuk kali ketiga.

“Pertama saya mengucapkan selamat kepada PDIP, Partai Golkar, PKS, PKB, dan Gerindra yang memperoleh kursi di DPRD. Terlebih kepada PDIP yang mendapat 35 kursi. Kedua kali ini kami tidak kebagian suara,” ujarnya.

Kandas

Dia mengakui, kekuatan lawan khususnya PDIP sulit ditandingi kali ini, sehingga dia dan beberapa teman di partai lain mengalami kekalahan.

Selain faktor eksternal tersebut, faktor internal juga menjadi salah satu penyebab. Dia mengatakan, di antara 10 caleg di dapil V (Banyudono, Sambi, Sawit, Ngemplak), tempat dia nyaleg, dia merasa hanya dia yang bertarung sehingga perolehan suara partai yang diharapkan bisa mengangkat nama caleg, kandas.

“Kalau saya berjuang sendirian untuk memperoleh 8.500 suara sebagai syarat minimal caleg jadi, saya tidak mungkin mampu. Makanya sejak awal kami juga sudah memprediksi pemilu kali ini hasilnya bakal jelek untuk kami,” ujarnya.