Tanah Kas Desa Terancam Erosi, Pemdes Desa Jetak Sragen Segera Buat Hutan Desa

Sejumlah kios renteng di rest area tak jauh dari Balai Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Hasil pengelolaan kios renteng tersebut menjadi sumber pendapatan Pemdes Jetak, Rabu (15/5 - 2019). (Moh. Khodiq Duhri)
16 Mei 2019 11:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Erosi yang kerap terjadi di Kali Mungkung mengancam luasan tanah kas Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen. Untuk mengantisipasinya, Pemerintah Desa (Pemdes) Jetak segera membuat hutan desa.

Saat ini, tanah kas desa seluas 10 hektare yang memanjang sekitar 3 km di daerah aliran sungai (DAS) masih dikelola warga melalui sistem lelang. Setiap tahun, tanah kas desa yang ditanami aneka palawija itu dilelang kepada warga.

“Kami berencana meniadakan lelang tanah kas desa pada 2020. Kami akan mengembangkan tanah kas desa menjadi hutan desa demi menanggulangi erosi dalam rangka menjaga aset desa,” kata Kepala Desa (Kades) Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Siswanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (15/5).

Pada awal 2020, proyek pembangunan hutan desa akan dimulai. Sebagai tahap awal, Pemerintah Desa (Pemdes) Jetak bakal berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk merealisasikan program tersebut.

“Nanti dikembangkan jenis tanaman yang tidak mudah mati dan relatif cepat dipanen. Salah satunya mungkin tanaman sengon. Dalam jangka panjang, hutan desa itu bisa dikemas menjadi paket wisata. Di sana bisa dibangun taman dan arena bermain atau outbound demi menarik minat pengunjung,” terang Siswanto.

Guna menunjang berdirinya hutan desa, Pemdes Jetak sudah berusaha memperbaiki infrastruktur jalan. Perbaikan jalan desa maupun jalan usaha tani menjadi program prioritas yang didanai APBDesa. Pada tahun ini, Pemdes Jetak mendapat kucuran dana desa (DD) senilai Rp783 juta dan alokasi dana desa (ADD) senilai Rp600 juta.

Sebagian dari DD tersebut digunakan untuk perbaikan infrastruktur jalan dan talut penghubung antardusun. “Pada 2019 ini kami masih fokus ke perbaikan infrastruktur jalan desa dan jalan usaha tani. Untuk hutan desa baru diprogramkan 2020. Total kebutuhan dananya berapa belum kami bahas,” ucap Siswanto.