Kisah Pasutri Muda Sragen Rintis Usaha Kuliner Rica-Rica Bekicot, Pernah Coba?

Leni Nur Aini membungkus rica-rica bekicot di rumahnya di Dusun Ngasem, RT 12, Desa Karangtalun, Tanon, Sragen, Selasa (14/5/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
16 Mei 2019 15:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Firnando, 23, warga Dusun Ngasem RT 12, Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, Sragen, awalnya bekerja sebagai buruh bangunan. Ayah satu anak yang hanya lulusan SD ini menggantungkan hidup keluarga kecilnya dari pekerjaan tersebut.

Namun, beberapa bulan lalu, Firnando hampir tak bekerja selama kurang lebih sebulan. Tak ada satu pun tawaran untuk bekerja sebagai buruh bangunan. Dia pun bingung apa yang harus dia lakukan untuk menghidupnya keluargaya.

“Selama lebih dari sebulan bingung mau ngapain. Kalau tidak bekerja, bagaimana bisa menghidupi keluarga? Apalagi saya punya anak yang berusia satu tahun,” kenang Firnando saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Selasa (14/5/2019).

Di tengah kegalauan akibat menganggur, suatu hari istrinya, Leni Nur Aini, 22, datang menghampiri dengan membawa sebungkus rica-rica bekicot yang ia beli di pasar. Itu adalah kali pertama Firnando mencicipi salah satu kuliner Sragen itu.

“Sekali memakan, rasanya tidak karuan [tidak enak] karena bumbunya ada yang salah. Saya lalu berpikir, kalau dimasak sendiri mungkin rasanya lebih enak,” ujarnya.

Keesokan harinya, Firnando berburu bekicot di kebun belakang rumah. Tidak disangka, saat itu ia mendapat banyak bekicot. Bekicot itu kemudian diolah sendiri menjadi rica-rica dengan cita rasa pedas khas merica oleh istrinya.

“Kalau diolah sendiri rasanya lebih enak. Saat itu niatnya sih mau dimakan sendiri. Tapi, ternyata ada sisa banyak. Saya lalu iseng menawarkan rica-rica bekicot itu melalui Facebook. Tidak disangka, ternyata bekicot itu banyak diminati,” paparnya.

Sejak saat itu, Firnando makin termotivasi untuk berjualan rica-rica bekicot. Pada awalnya, ia masih berburu sendiri hewan dengan nama latin Achatina Fulica itu.

Perburuan bekicot itu biasa dilakukan pada malam hari. Tidak hanya di wilayah Sragen, Firnando berburu bekicot sampai ke kawasan Kacangan, Andong, Boyolali.

“Sekarang saya sudah tidak lagi berburu bekicot karena hewan ini juga kadang susah dicari. Sekarang saya membeli dari pengepul seharga Rp4.000/kg untuk bekicot bercangkang dan Rp30.000-Rp35.000 per kg untuk daging bekicot tanpa cangkang. Harga daging bekicot mentah sudah setara harga daging ayam,” terangnya.

Daging bekicot tanpa cangkang biasanya langsung diolah menjadi rica-rica. Sementara bekicot yang masih bercangkang dia masukkan dalam kandang di belakang rumah.

Firnando bisa sewaktu-waktu mengambilnya untuk diolah menjadi rica-rica. Untuk memisahkan daging dari cangkangnya, bekicot harus direbus selama sekitar 30 menit. Daging bekicot itu kemudian dibersihkan lalu digoreng setengah matang.

Daging bekicot setengah matang itu kemudian dimasak menjadi rica-rica dengan citarasa pedas. Dalam sehari, Firnando dan istrinya bisa mengolah 10-15 kg daging bekicot.

Rica-rica bekicot itu bisa dipesan dalam porsi besar atau kecil. Satu kg rica bekicot dijual seharga Rp90.000. Sementara satu bungkus rica bekicot ukuran kecil dijual seharga Rp2.000.

Biasanya, Firnando memasarkan daging bekicot itu melalui Facebook. Sementara untuk offline, ia berjualan di dua tempat yakni di Edupark Gemolong dan Alun-Alun Sasana Langen Putra Sragen.

“Alhamdulillah, selama Ramadan ini ada peningkatan pesanan. Sebelum Ramadan, saya biasa mengolah 7-8 kg daging bekicot, selama Ramadan saya bisa mengolah 10-15 kg daging bekicot,” ucapnya.

Para pemesan rica-rica bekicot ini tidak hanya dari kalangan perorangan. Firnando juga kerap menerima pesanan bekicot untuk partai besar. Bahkan, seorang warga Jakarta sudah menjadi pelanggan setia rica-rica bekicot bikinan Firnando.

“Kalau mau dikirim ke Jakarta, rica bekicot ini harus dimasak kering supaya bisa tahan sampai empat hari. Jadi, paket rica-rica bekicot ini harus sampai di Jakarta dalam 1-2 hari,” terang Leni Nur Aini.

Firnando, 23, memunguti bekicot dalam kandang di belakang rumahnya di Dusun Ngasem RT 012, Desa Karangtalun, Tanon, Sragen, Selasa (14/5/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)