Harga Tiket Pesawat Domestik Tetap Tinggi, Travel Agent Solo Merasa Di-PHP

Calon penumpang mengantre di loket maskapai untuk mengurus pembatalan tiket menyusul penutupan sementara Bandara Adi Soemarmo, Jumat (1/6 - 2018) sore. (Solopos / Bayu Jatmiko Adi)
17 Mei 2019 18:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pengelola travel agent di Solo merasa diberi harapan palsu (PHP) terkait harga tiket pesawat untuk tujuan domestik yang tetap tinggi meski pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sudah resmi menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat sebesar 12%-16%.

Akibat harga tiket yang tinggi itu, permintaan tiket untuk tujuan dalam negeri turun hingga 30%. Owner Batari Tour and Travel Solo, Mirza Ananda, mengaku merasa di-PHP terkait tiket pesawat ini. Menurutnya, pada kenyataannya harga tiket pesawat domestik masih terbilang mahal.

“Kami itu rasanya di-PHP. Harga tiket pesawat masih tinggi, terutama di kelas full service dan medium service. Memang masih ada peminat, tapi jumlahnya turun,” ujarnya kepada Solopos.com, Kamis (16/5/2019).

Mirza menambahkan konsumen pun lebih banyak memilih untuk memesan tiket ke luar negeri daripada dalam negeri. Mereka yang booking tiket untuk penerbangan domestik lebih banyak overland seperti ke Bali.

Ia mencontohkan tiket pesawat terbang dari Solo ke Medan mencapai Rp4 juta. Harga tiket ini hampir sama dengan perjalanan ke Thailand. Bahkan, harga tiket Solo-Jakarta sekali jalan sama dengan tiket Solo-Kuala Lumpur pergi pulang.

Menurutnya, sejumlah maskapai khususnya yang melayani rute dalam negeri masih mematok harga cukup tinggi ke berbagai tujuan di Indonesia. “Trennya saat puasa awal itu tiket turun. Akan tetapi, ini tetap tinggi,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, tiket Solo-Jakarta pada 21 Mei 2019 untuk Lion Air Rp543.000-Rp787.600, Citilink Rp1,023 juta-Rp1,031 juta, Sriwijaya Rp1,089 juta, dan Garuda Rp1,182 juta.

Sementara itu, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo Solo, Abdullah Usman, mengakui jumlah penumpang melalui bandara di wilayah Boyolali itu menurun drastis. Bahkan, penurunan ini mencapai 43%.

“Jumlah penumpang menurun. Tiket yang masih mahal jadi salah satu penyebabnya. Maka dari itu, untuk mudik Lebaran pun prediksi kami naiknya tidak terlalu banyak, sekitar 6%,” jelasnya.