Mapel Sejarah Tak Diminati, Banyak Siswa SMA yang Remidi Sehabis Ulangan

Ilustrasi Pendidikan SMA (Solopos - Whisnupaksa)
18 Mei 2019 01:00 WIB Agnes Yustin Roswita Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sejumlah guru sejarah di SMAN Solo menilai para siswa kurang meminati mata pelajaran (mapel) tersebut. Hal itu terlihat dari pasifnya siswa saat pelajaran serta banyak dari mereka yang ikut remidi setelah ulangan.

Menurut salah seorang guru sejarah SMAN 3 Solo, Puji Rahayu, selama empat tahun ini, jarang ada siswa yang aktif bertanya di kelas seusai mapel pelajaran sejarah. Dari total 300-an siswa SMAN 3 Solo, lebih banyak yang ikut remidi setelah ulangan.

"Padahal siswa-siswi zaman dulu, sebelum tiga atau empat tahun ini, banyak sekali yang aktif bertanya. Belakangan anak-anak jarang bertanya. Paling hanya satu atau dua anak yang bertanya. Penyebabnya, menurut saya pribadi, anak-anak mulai tidak gemar membaca dan lebih suka menerima informasi yang instan lewat gawai," kata Puji Rahayu saat ditemui Solopos.com, Kamis (16/5/2019).

Padahal, menurut Puji, mata pelajaran sejarah penting untuk dipelajari oleh siswa. Dengan belajar sejarah, terutama sejarah bangsa Indonesia, siswa diharapkan paham dan mulai mengubah karakter mereka di masa sekarang agar berdampak pada masa depan yang lebih baik. Dengan mengetahui masa lalu, siswa dapat memperbaiki diri berdasarkan karakter tokoh-tokoh sejarah yang kurang baik.

"Kami sebagai guru lebih aktif bertanya supaya murid-murid lebih terasah kemampuan kognitifnya dalam menjelaskan peristiwa sejarah secara kronologis," imbuh Puji.

Demikian halnya dengan SMAN 7 Solo. Menurut salah seorang guru sejarah SMAN 7 Solo, Angga Pramudya, mayoritas siswa belum memahami makna-makna sejarah yang dipelajari di kelas.

"Sebenarnya anak-anak itu pandai menghafal suatu peristiwa sejarah secara kronologis dan terperinci. Nilai sejarah mereka pun bagus-bagus. Namun, saat salah satu siswa bertanya tentang makna Proklamasi, mereka bingung dan tidak bisa menjawab. Ini artinya mata pelajaran sejarah di mata anak-anak hanya formalitas untuk mendapatkan nilai yang baik," kata Angga sat ditemui Solopos.com.

Angga juga menjelaskan mayoritas siswa banyak yang aktif bertanya di kelas. Namun, menurut Angga, mereka rajin bertanya supaya mendapatkan nilai plus dan ingin mudah diingat guru. Bukan karena penasaran atas materi pelajaran yang diberikan. Bahkan, dari satu kelas yang jumlah siswanya sekitar 30-an orang, selalu ada 4-5 siswa yang tertidur saat jam pelajaran sejarah.

"Akhirnya, saya pribadi menyisipkan materi pelajaran sejarah yang mereka tidak pelajari sebelumnya. Seperti materi Imperialisme Jepang, tentang PSK pada masa penjajahan di Kota Solo. Akhirnya mereka melek. Saya berharap dalam kurikulum pelajaran sejarah, 60% teori, sisanya praktik di luar kelas seperti kunjungan ke museum," imbuh Angga.