100 Tahun Letusan Kelud dan Pendirian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO)

Dampak Letusan Gunung Kelud pada 1919. - Koleksi Tropenmuseum
20 Mei 2019 21:55 WIB Syifaul Arifin Solo Share :

Solopos.com, SOLO--20 Mei 1919 siang. “Tiba-tiba langit gelap. Sinar matahari tak tampak. Hujan abu dan batu yang turun. Para penduduk desa di lereng gunung berusaha menyelamatkan apa pun yang dapat diselamatkan: harta dan jiwa dan hewan peliharaan. Semuanya berlarian menghindari kekerasan alam. Lari! Lari kemanakah dirimu? Bernapas semakin sulit. Udara semakin mencekik semua yang bernapas. Bunyi desiran semakin dekat dan kuat. Aliran lahar menghancurkan semuanya dan mengganggu jalan keluar untuk manusia. Bangunan dan pepohonan besar patah menjadi kecil-kecil bak korek api. Kawah memuntahkan lahar dan abu dan disertai awan gas beracun. Hutan, tanah dan sawah terselimuti kain berwarna abu-abu. Belasan desa raib dari peta bumi. Ribuan korban jiwa terkubur hidup-hidup.”

Deskripsi letusan Gunung Kelud diceritakan detail dalam laporan Carl Wilhelm Wormser (1876-1946), pejabat Pengadilan Landraad di Tulungagung sebagaimana dikutip dari Wikipedia. Wormser menjadi saksi mata letusan yang meluluhlantakkan kawasan Blitar dan sekitarnya itu. Sebanyak 5.160 orang meninggal, rumah-rumah hancur, 15.000 hektare lahan produktif rusak diterjang aliran lahar yang mencapai 38 km.

Rakyat berduka. Itu letusan kesekian. Sejak 1.000, Kelud telah meletus 30 kali. Pada abad ke-20, Gunung Kelud meletus pada 1901, 1919, 1951, 1966, 1990. Pada abad ke-21, Kelud meletus pada 2007 dan 13-14 Februari 2014.  Sejak dulu, letusan Kelud berpengaruh terhadap kota-kota lain di Jawa. Biasanya, abu diterbangkan angin sampai Bandung. Solo juga terkena.

Saat Kelud meletus pada 1919, masyarakat bergerak membantu korban letusan. Warga berbagai daerah melakukan aksi penggalangan dana, logistik, obat, tenaga medis untuk menolong korban. Di Yogyakarta, Steun Comite Keloed bekerja sama dengan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah juga bergerak menggalang bantuan.

Mu’arif dalam tulisan berjudul Steun CComie Keloed dan PKO di Islamberkemajuan.id, menyebut bantuan yang dikumpulkan dua lembaga itu sudah tersedia. Rencananya, bantuan itu akan dikirim ke Blitar. Namun, bantuan dari masyarakat untuk korban Kelud ternyata sudah banyak. Residen Yogyakarta menyarankan kepada Steun Comite Keloed dan PKO menggunakan bantuan itu untuk kepentingan warga Yogyakarta saja yang kesusahan.

Dalam sebuah rapat umum (vergadering) di Lodge Malioboro (Gedung Agung) pada 25 Agustus 1923, Kiai Syujak, Voorzitter Muhammadiyah Bagian PKO, menceritakan kembali kegiatan penggalangan bantuan korban Kelud. Namun, bantuan yang sudah siap itu urung didistribusikan karena bantuan untuk korban sudah berlebih.

Akhirnya, sesuai permintaan Residen Yogyakarta, Bagian PKO Muhammadiyah memanfaatkan bantuan itu untuk kepentingan warga yang kesusahan, misalnya menolong dan mengurus orang mati yang terlantar di rumah dan di jalan, mengatur distribusi zakat, dan mendirikan poliklinik. Pada 1923, berdiri Poliklinik PKO pertama dengan dokter Somowidagdo. Itu cikal bakal RS PKU Muhammadiyah di Jl. Ahmad Dahlan Jogja.

Kredit foto: istimewa/muhammadiyahstudies.blogspot.com

Yang dilakukan oleh Kyai Syujak itu didasari oleh ajaran K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ahmad Dahlan terkenal karena menekankan pelaksanaan Surat Al Ma’un. Dalam Alquran surat Al Ma’un, ada perintah untuk menyantuni orang miskin, anak yatim, atau secara umum diartikan sebagai orang yang kesusahan. Karena itulah, nama lembaga untuk mengurusi bantuan untuk korban bencana dinamakan PKO.

Bagian PKO Muhammadiyah kemudian berubah namanya menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU). Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam buku Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan menulis aplikasi Surat Al Ma’un itu kini diperluas tak hanya menangani kesehatan, anak yatim, dan orang miskin, namun juga memberdayakan kelompok marginal seperti petani, nelayan, buruh, difabel, dan kelompok tertindas lainnya. Nama lembaganya berubah. Pembina Kesejahteraan Umat berubah menjadi Majelis Pembina Kesehatan Umum, tetap dengan singkatan PKU.

Dalam perkembangannya, kepanjangannya berubah menjadi Majelis  Pembina Kesehatan Umum (PKU) yang mengurusi masalah kesehatan. Selain itu, ada Majelis Pemberdayaan Masyarakat yang mengurusi pemberdayaan masyarakat marginal, miskin, dan tertindas.

Tak hanya itu, Muhammadiyah berupaya mengembalikan elan vital PKO yang didirikan oleh Kiai Syujak, yakni membantu korban bencana alam dengan mendirikan Lembaga Penanggulangan Bencana  (LPB) Muhammadiyah atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Jadi, keberadaan PKU Muhammadiyah memiliki sejarah dengan penanggulangan bencana dan penggalangan bantuan untuk korban letusan Gunung Kelud.

Kini,  Muhammadiyah  memiliki 2.119 RS, Rumah Bersalin, BKIA, BP. Kemudian 318 panti asuhan, santunan, asuhan keluarga, dll;  54 panti jompo, 82 rehabilitasi cacat, hingga 71 SLB.