Sidak Takjilan, BPOM Solo Temukan Makanan Berformalin

Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Solo meneliti sampel makanan takjil saat inspeksi mendadak (sidak) di Jl. Menteri Supeno, Manahan, Banjarsari, Solo, Senin (20/5 - 2019). Sidak tersebut sebagai wujud pengawasan makanan selama Bulan Puasa untuk melindungi konsumen. (Solopos/Nicolous Irawan)
21 Mei 2019 05:33 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Kota Solo melakukan inspeksi mendadak hidangan makanan takjil di kawasan Stadion Manahan, Kota Solo pada Minggu (20/5/2019) sore. Dalam sidak itu, ditemukan dua makanan jenis mie goreng dan mie acar mengandung bahan pengawet jenis formalin.

Kepala Loka POM Solo, Bagus Heri Purnomo, saat ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatannya, mengatakan dari 18 sampel yang diambil melalui tes laboratorium dua sampel makanan berupa mie positif formalin. Pedagang yang menjual mi berformalin itu lantas dilakukan pembinaan untuk tidak menjual kembali mie tersebut.

“Pedagang diberikan pembinaan dan imbauan saja untuk tidak membeli mie dari produsen mi yang digunakan,” ujarnya.

Ia menambahkan sidak yang digelar di kawasan Stadion Manahan merupakan sidak ke tiga setelah sebelumnya digelar di kawasan UMS sebanyak 17 sampel dan Sragen sebanyak 24 sampel. Di dua tempat sebelumnya, tidak ditemukan makanan yang mengandung pewarna tekstil dan pengawet buatan.

“Jajanan yang seringkali menggunakan bahan berbahaya biasanya bakso, mi basah, kerupuk dan makanan atau minuman dengan dengan warna mencolok. Biasanya warna merah jenis rhodamin yang sering digunakan,” imbuhnya.

Pembinaan kepada pedagang yang menggunakan bahan berbahaya juga untuk menelusuri makanan yang dijual buatan sendiri atau membeli dari produsen. Apabila makanan yang dijual dari supplier Loka Pom akan menuju lokasi pembuatan makanan tersebut.

Menurutnya, bahan berbahaya tersebut apabila dikonsumsi secara terus menerus akan berdampak pada gangguan kesehatan. Seringkali pedagang tidak mengetahui jenis-jenis kandungan bahan berbahaya dalam makanan atau tidak mengetahui bahwa makanan yang ia ambil dari distributor mengandung bahan berbahaya. Sehingga, dalam pengawasan yang dilakukannya juga dilakukan sosialisasi mengenai jenis-jenis bahan berbahaya dalam makanan.