Pelaku Online Shop Solo Terpukul Pembatasan Medsos

Ilustrasi belanja online di Instagram (Pictagram)
24 Mei 2019 08:00 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kebijakan pembatasan akses media sosial (medsos) per Rabu (22/5/2019) oleh pemerintah pusat menyusul kerusuhan massa di Jakarta berimbas pada supplier dan pemilik online shop di Kota Solo.

Demonstrasi yang terjadi di dekat Pasar Tanah Abang yang juga menjadi pusat kulakan bisnis online ini tutup total. Alhasil, para supplier dan reseller toko online kelimpungan lantaran tak bisa menerima order atau pun mengirimkan pesanan dari konsumen.

Salah satu supplier di Beteng Trade Center (BTC) Solo, Ades, mengakui orderan dari reseller turun drastis hingga 50% lantaran adanya gangguan akses medsos terutama via Whatsapp. Praktis selama hampir seharian ia kesulitan berkomunikasi dengan para pelanggan.

Ia mengeluh tak bisa mengirimkan gambar model baju baru kepada para reseller atau pun menerima pesanan. “Saya sadar akses medsos dibatasi itu pada Rabu siang. Saya kirim gambar produk gagal terus. Padahal bisnis online perlu kirim gambar produk dari dan ke reseller.

Reseller juga kena dampak, yakni sepi pesanan karena medsos down. Mereka kirim gambar produk yang diminta tidak bisa,” katanya saat ditemui Solopos.com, Kamis (23/5/2019).

Tak hanya reseller yang terganggu oleh pembatasan medsos, stok produk pun terkendala lantaran sebagian besar barang dagangan dipasok dari Tanah Abang. Tidak beroperasinya Tanah Abang sebagai buntut demonstrasi membuat pengiriman barang praktis mandek. Alhasil, ia tak bisa kulakan.

Menurutnya, pedagang di Tanah Abang Jakarta tempatnya mengambil barang tutup hingga 27 Mei. Para pedagang di Tanah Abang takut apabila toko dibuka justru terkena imbas massa yang berdemo dan berakibat rusuh seperti pada Rabu.

Sekali pun bisa membeli barang dan transfer uang kepada pedagang di Tanah Abang, barang belum tentu bisa dikirim lantaran ekspedisi juga tak bisa mengambil pesanan.

Ades biasa kulakan sekitar satu karung baju (1 koli) dengan bobot sekitar 50 kg atau senilai rata-rata Rp15 jutaan dari 1 toko. Jika ramai order, satu koli baju ini bisa ludes dalam sehari.

Apalagi menjelang Lebaran saat ini reseller yang hilir mudik ke kiosnya bisa mencapai ratusan. Namun, akibat medsos bermasalah hanya separuh reseller yang menyambanginya.

Supplier lain dari Galery Chory, Pandi Pujianto, juga mengeluhkan sempat turunnya pesanan dari reseller karena terkendala pembatasan akses Whatsapp. Ia pun tak bisa berkomunikasi dengan pelanggan yang kerap memesan barang dari produk yang diunggahnya. Alhasil, pesanannya juga turun hingga 50%.

“Biasanya pukul 15.00 WIB masih ramai, tapi pada Rabu toko agak sepi karena reseller pulang lantaran sulit memperoleh konfirmasi dari customer mereka. Alhamdulillah, sekarang lebih lancar karena pakai metode lain dengan VPN untuk memperlancar komunikasi,” katanya.

Pandi mengaku setiap hari ia mengunggah foto 8-10 produk baru untuk melayani reseller. Sementara itu, reseller asal Solo, Ayu, juga terpaksa menghentikan jualan online nya selama sehari. Pemilik bisnis online shop baju muslim ini tak bisa melakukan apa-apa karena WA mengalami gangguan.

Bahkan, di salah satu market place yang digunakannya juga ikut tak bersahabat. “Saya diberi tahu pakai VPN lalu saya unduh dan pakai. Alhamdulilah, mendingan sehingga saya bisa unggah produk-produk baru ke konsumen,” paparnya.