Kebutuhan Daging Sapi Sragen Meningkat 5 Kali Lipat Pada H-3 Lebaran

Suasana los khusus daging sapi di Pasar Bunder Sragen, Rabu (22/5/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
24 Mei 2019 16:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Permintaan daging sapi di Sragen pada H-3 dan H+3 Lebaran diprediksi meningkat sampai lima kali lipat dibanding hari biasa. Kebutuhan daging sapi sekarang rata-rata 9-10 ekor per hari.

Pada tujuh hari Lebaran itu kebutuhan daging sapi akan melonjak sampai 50 ekor per hari. Sementara harga daging sapi masih stabil di harga Rp100.000/kg.

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lembu Mas Sragen, Duto Sosialismanto, saat berbincang dengan wartawan di Pasar Bunder Sragen, Rabu (22/5/2019), menjelaskan stok daging sapi di Sragen aman karena populasi sapi di Sragen melimpah.

Dia mengatakan para pedagang dari Jakarta juga mulai mencari sapi ke Sragen dan Boyolali untuk mencukupi kebutuhan daging di Ibu Kota.

“Sapi di Sragen merupakan sapi lokal. Daging sapi impor tidak pernah masuk ke Sragen meskipun harganya miring, yakni Rp50.000/kg. Daging sapi impor itu merupakan daging beku yang tidak laku di Sragen. Masyarakat Sragen lebih memilih daging segar dengan harga sampai Rp100.000/kg. Harga tersebut relatif rendah bila dibandingkan daerah lain. Seperti di Solo dan Karanganyar harganya bisa sampai Rp110.000-Rp120.000/kg,” ujar Duto.

Duto mengatakan kebutuhan daging sapi di Sragen saat ini belum terasa. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, Duto mengatakan kebutuhan daging sapi akan meningkat luar biasa sampai lima kali lipat pada H-3 Lebaran dan H+3 Lebaran.

Penyembelihan sapi pada hari-hari itu, sebut dia, bisa mencapai 50 ekor/hari padahal pada saat normal hanya 9-10 ekor per hari. “Saya saja biasanya hanya satu ekor bisa naik sampai lima ekor per hari. Harga daging sapi saya paling tinggi karena mempertahankan kualitas,” ujarnya.

Seiring peningkatan jumlah sapi yang disembelih untuk kebutuhan daging sapi, Duto menyampaikan Pemerintah Kabupaten Sragen mulai menaikkan retribusi penyembelihan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dari Rp15.000/ekor menjadi Rp30.000/ekor untuk sapi betina dan Rp20.000/ekor untuk sapi jantan.

“Konsumsi daging di dalam negeri relatif rendah, yakni hanya 2,8 kg per kapita. Berbeda dengan Negara lain,” katanya.

Seorang pedagang daging sapi asal Sine, Sragen, Sutiyem, 55, mengaku menjual daging sapi super senilai Rp100.000/kg sedangkan untuk daging sapi kualitas II Rp90.000/kg dan daging sapi biasa Rp85.000/kg.

“Saya biasanya hanya habis 50 kg per hari. Permintaan sekarang masih biasa-biasa saja belum ada peningkatan,” katanya.

Pedagang daging sapi asal Boyolali, Sutarmi, 49, menjual daging sapi super senilai Rp100.000/kg dan daging sapi biasa Rp90.000/kg. “Permintaannya masih biasa. Yang laku banyak justru iga sedangkan untuk gading belum laku keras dan harga masih normal,” tuturnya.