Bengawan Solo Jadi Tempat Sampah Raksasa, Antara Kesadaran dan Mitos

Sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) menemukan sampah sofa di aliran Kali Pepe dekat Pintu Air Demangan, Solo, belum lama ini. (Istimewa - Sibat Sewu Solo)
27 Mei 2019 12:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Melintas di Sungai Bengawan Solo sekitaran Jurug, Jebres, pada Minggu (26/5/2019), membuat Solopos.com heran sekaligus prihatin. Tumpukan sampah tampak di sepanjang aliran sungai.

Sampah aneka jenis itu menempel di tepian sungai, parapet, dan sebagian tersangkut pilar jembatan. Kondisi serupa terjadi di Pintu Air Demangan, Sangkrah, yang merupakan pengendali aliran air dari dalam Kota Solo ke Sungai Bengawan Solo.

Aliran air di pintu air itu berwarna hitam dan bau busuk menguar tajam. Segala jenis sampah mulai dari sampah plastik, botol minuman, bekas bahan makanan, hingga popok menumpuk di sekitarnya.

Berubahnya Sungai Bengawan Solo menjadi tempat sampah raksasa itu tak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan serta berbagai mitos yang berkembang di masyarakat dan membuat mereka mengambil jalan pintas membuang sampah di sungai.

Hampir satu tahun lebih, Pekarya Sungai Solo rutin membersihkan aliran anak dan Sungai Bengawan Solo setiap hari. Sungai terpanjang di Pulau Jawa itu seolah menjadi muara dan tempat sampah raksasa bagi warga sekitarnya.

Sampah paling umum adalah plastik dan pakaian hingga bangkai hewan dan perabot rumah tangga. Pekarya Sungai yang salah satunya berasal dari sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) bentukan Palang Merah Indonesia (PMI) itu kerap dibuat kerepotan membersihkan sampah-sampah tersebut.

Mereka harus terus mengevakuasi sampah berukuran mini sampai jumbo. Ketua Sibat Sewu, Sri Mahanani Budi Utomo, mengaku sering menemukan sofa bekas, kasur busa, springbed, hingga televisi tabung.

Sampah berukuran jumbo itu diletakkan begitu saja di tepi sungai. Saat aliran sungai meluap, sampah itu hanyut kemudian tersangkut di tanggul.

“Saat pembersihan, kami dokumentasikan untuk lucu-lucuan. Memang enggak terbayangkan kenapa ada orang yang membuang sampah seperti itu ke sungai, tapi nyatanya ada. Mitos harus membuang perabot milik orang yang sudah meninggal sepertinya masih kuat. Kalau dititip ke petugas sampah keliling kan enggak mau, solusi singkat mereka ya dibuang ke sungai,” kata dia kepada Solopos.com, Minggu.

Budi, sapaan akrabnya, mengatakan sampah springbed tidak dilirik pemulung karena tak memiliki nilai jual. Sementara apabila tidak dibersihkan oleh sukarelawan, sampah tersebut akan terus teronggok di tepian.

Mitos lain yang juga membayangi sukarelawan adalah sampah popok. Warga enggan membuang sampah jenis ini ke tempat sampah karena takut popok tersebut akan terbakar.

“Kalau popok terbakar kan mitosnya pantat bayi yang sebelumnya memakai popok itu akan muncul semacam benjolan merah yang disebut suleten. Padahal dampak buruk sampah popok ini enggak hanya menyebabkan banjir tapi juga residunya bisa membuat habitat sungai terganggu. Saya baca artikel katanya bisa mengubah reproduksi ikan,” kata dia.

Popok Bekas

Ketua Sibat Semanggi, Tavip Jaka Susilo, membenarkan mitos tersebut. Sampah yang dibuang di aliran Sungai Bengawan Solo terkadang berasal dari luar daerah. Mereka mengumpulkan sampah popoknya menjadi satu dalam wadah plastik lalu melemparkannya begitu saja saat melintasi jembatan.

“Saat kami melakukan pembersihan, ada saja warga yang melempar plastik hitam berisi popok. Makanya kami harus memakai helm, kalau tidak ingin terkena lemparan itu. Yang saya heran, mereka yang melempar sampah itu sebenarnya tahu kami ada, tapi abai saja,” ucapnya.

Seusai pembersihan, biasanya Pekarya Sungai akan memasang spanduk larangan membuang sampah sembarangan di lokasi tersebut. Meski tak cukup efektif mencegah, namun setidaknya imbauan telah terpasang.

Cara lain pencegahan adalah memasang pagar tinggi di tepi sungai. Namun pagar itu hanya boleh dipasang di anak sungai seperti Kali Jenes.

“Sepanjang Kali Anyar, Kali Pepe, sampai Sungai Bengawan Solo, sampah popok sekali pakai ini selalu ada. Kalau pagar tinggi sudah dipasang di Kali Jenes, jeleknya itu mereka balik buangnya ke Sungai Bengawan Solo. Saya berharap masyarakat sadar,” kata Tavip.

Sukarelawan Sibat Sangkrah, Sony Waluya, bahkan pernah menemukan sampah kayu besar dan bambu berikut rumpunnya. Sampah kayu ini biasanya menyangkut di pilar jembatan sampai setinggi lima meter. Jika tak dibersihkan sampah-sampah itu dikhawatirkan akan menggerus fondasi hingga menyebabkan jembatan ambrol.

“Kalau sampah yang menyangkut di pilar jembatan biasanya kami tunggu sampai debit air surut untuk keselamatan kami sendiri. Kadang kalau curah hujan tinggi, sampah yang tersangkut juga semakin tinggi. Tapi kami tidak bisa membersihkan sebelum air surut. Pembersihan menggunakan berbagai alat, seperti gergaji mesin, linggis, arit, apa pun. Prosesnya bisa lima hari sampai dua pekan tergantung tinggi sampah dan ukurannya," ucap Sony.

Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo, Joko Supriyanto, membenarkan hal tersebut. Tumpukan sampah pada tiang jembatan akibat banjir bandang dapat merusak fondasi. Namun, kata dia, hal itu hanya salah satu faktor.

“Kerusakan Jembatan Walanda Maramis atau Kreteg Abang yang saat ini belum rampung diperbaiki salah satunya karena sampah di pilar jembatannya,” ucapnya, belum lama ini.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Charizal Akdian Manu, meminta kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan rutin mengecek daerah sempadan sungai.

“Apabila ada pohon yang potensi longsor, segera sampaikan pada kami. Ini untuk mencegah pohon itu terbawa arus sungai, kemudian tersangkut di tiang jembatan,” kata dia, beberapa waktu lalu.